Pemikir atau Pelaksana?

an old article from my college year

Jika harus memilih mana yang lebih baik, apa yang akan Anda pilih, menjadi pemikir atau pelaksana? Tentu setiap orang memiliki jawaban masing-masing. Ada yang mendukung pemikir, karena di tangan, atau katakanlah di otaknyalah rencana itu ada. Tetapi tentu ada juga yang mengatakan pelaksana adalah tonggak dari sebuah rencana, karena tanpa pelaksana rencana itu praktis hanya tinggal rencana. Bahkan jika ada yang kritis, dia akan mengatakan, mengapa keduanya harus dipertentangkan?

Tentu menarik mengapa ini diangkat. Selalu menjadi diskusi hangat di meja-meja mulai meja kantin, meja perpustakaan, bahkan meja pingpong, bahwa STT Jakarta banyak melahirkan pemikir hebat pada masanya. Katakanlah Abineno, Latuihamallo, Eka Darmaputera, Liem Khiem Yang, hingga kuartet pemikir muda STTJ, yaitu Septemmy Lakawa dengan “mata baru dan memaknai ulangnya”, Joas Adiprasetya dengan “ini dan itunya” (selalu in between seperti global dan lokal menjadi glokal!), Sylvana Ranti-Apituley dengan …(wah saya baru ketemu kakak secara intensif satu semester ini, jadi belum begitu tahu ciri khas kakak…maaf ya), dan Martin Sinaga dengan “bagaimana, hah??” (maaf, bukan bermaksud menyinggung). Masih banyak nama lain yang bisa dianggap selaku pemikir hebat STTJ (Maaf bila ada yang belum dicantumkan namanya karena itu bukan berarti ibu/bapak bukan pemikir hebat, melainkan karena terbatasnya tempat di kolom ini).

Yang menarik adalah mereka semua pemikir hebat. Banyak mahasiswa STTJ ingin seperti mereka. Seperti slogan “I want to be like Mike” yang mungkin diganti dengan “I want to be like Liem Khiem Yang”. Kita (kita?) semua ingin menjadi pemikir hebat yang bisa menelurkan konsep-konsep besar dan memberikan sumbangan bagi gereja. Bahkan sepertinya sudah menjadi tradisi kalau STTJ harus melahirkan pemikir hebat. Pelaksana ‘kan bisa siapa saja, tetapi pemikir, belum tentu!

Kembali ke pertanyaan awal. Siapa yang lebih penting, pemikir atau pelaksana? Melihat tradisi STT Jakarta, sepertinya kita akan kembali melahirkan pemikir-pemikir hebat pada zamannya. Tradisi yang baik yang menular sampai ke masa kita sekarang. Tetapi jangan senang dulu! Pemikiran-pemikiran yang hebat itu, yang bisa lahir di manapun, biasanya mentok sebatas ide. Pelaksanaannya NATO (No Action Talk Only). Banyak sekali ide hebat lahir, tetapi berakhir di wacana. Tradisi melahirkan pemikir ternyata tidak diimbangi dengan pelaksanaan pemikiran tersebut.

Tidak percaya? Coba berefleksi ke diri kita masing-masing, sudah berapa banyak rencana yang sepertinya hebat kalau dilaksanakan ternyata hasilnya hanya sebatas wacana. Kadang-kadang kegagalan itu membuat kita marah, kesal, kecewa pada diri sendiri, atau bahkan mencari kambing hitam atas kegagalan pelaksanaan ide tersebut (sepertinya proses pencarian kambing hitam memang sudah tradisi sejak zamannya Adam!).

Mahasiswa STTJ tidak diragukan lagi kemampuan berpikirnya. Namun karena pemikiran yang canggih tersebut, kadang kita menjadi banyak menuntut dan lupa kewajiban untuk melaksanakannya. Kita berbicara mengenai alam, ide tentang bagaimana menyelamatkan lingkungan. Tetapi dalam hal praktis tiap hari, kita masih NATO (saya mengatakan kita dengan mengasumsikan bahwa saya juga termasuk di dalamnya). Misalnya ada meja kantin yang meskipun baru diberi taplak baru sudah bolong-bolong akibat lontaran bara rokok (bukannya mau menyalahkan perokok), lantai kantin yang selalu kotor (sehingga Mbak Mila dan Ceuceu diomeli kampus), dan masih banyak hal kecil lain.

Berefleksi pada program-program yang dilaksanakan oleh pihak kampus atau senat mahasiswa, maka kita juga banyak menjumpai ke-NATO-an di situ. Ketika masih taraf penggodokan ide, semua beramai-ramai memberikan pemikirannya. Ketika sampai pada tahap pelaksanaan, hanya sedikit yang menjalankannya, dan biasanya orangnya yang itu-itu juga.

Mentoknya pelaksanaan pemikiran-pemikiran itu juga tidak bisa disalahkan. Wong STTJ isinya pemikir semua, makanya banyak program tidak terealisasi, karena pada pelaksanaan sebagian besar mundur teratur. Tetapi, itu adalah hak semua orang. Dan saya harap tidak ada yang tersinggung karena tulisan ini, karena saya tidak bermaksud menyindir siapa-siapa, hanya mencoba berefleksi.

Akhirnya, untuk menjawab pertanyaan “Mana yang lebih penting, pemikir atau pelaksana?” itu semua kembali kepada kita. Tetapi saya yakin, teman saya Ray pasti bilang, “oh…tentu dua-duanya, cur!!!(BJP)

Viewed 15269 times by 5609 viewers

One Comment

  1. Berteologi tentang berpikir dan berbuat, mulaimsaja dulu dengan Allah. Berapa lama Ia berpikir sebelum menciptakan langit dan bumi? Pada akhir buku Wahyu Yohanes Allah mengumumkan ide-Nya untuk menciptakan langit dan bumi baru. Kapan ide ini akan menjadi perbuatan? Di antara manusia sebumi kita ide Julius Verne dan ttg “Flash Gordon” kini telah tampak realisasinya in concreto, tapi setelah berapa tahun ber-ide dan berkhayal, yah? Ada lagu “Mau apa pun kubuat, kucari roh yang kuat …” Lagu ide jua pun! Refleksiku tentang refleksi Anda adalah mengemukakan bahan lain, yalah mengikuti jalan pikiran Yakobus 4, 13-17, berkisar pada ide iman INSYAH ALLAH. Hasilnya terserah kita masingmasing

It will be great to have your reply here