Kenapa Saya Pilih Jokowi-JK

jkw2Saya sudah lama mengikuti gerak terjang Pak Joko Widodo. Kesan saya pertama kali melihat berita beliau mendukung mobil buatan siswa SMK di Solo adalah: “Ini orang mau buat pencitraan diri.” Saya curiga kepada media yang menggembar-gemborkan berita tersebut (saya sudah lama curiga terhadap media karena selalu menjalankan pesanan pemilik media). “Apa maksud mereka membuat berita ini?”

Lalu saya menyelidiki latar belakang beliau. Mereka yang melek internet, suka travelling, bisa memilah informasi dengan baik, tanpa fanatisme agama berlebihan, pasti bisa menemukan banyak berita mengenai beliau, sebelum dia ikut menjadi calon gubernur Jakarta. Kebanyakan berita memuji kinerja beliau di Solo. Saya lalu mengkonfirmasi kepada teman-teman yang ada di Solo, apakah berita tersebut betul, dan mereka mengaminkannya. Beberapa sahabat di Belanda yang ikut pulang ke Solo, sangat bangga dengan kemajuan kota asal mereka tersebut. “He’s the real deal,” demikian konklusi sementara saya.

Beliau kemudian dimajukan oleh PDIP sebagai gubernur Jakarta, didukung oleh Gerindra dengan Basuki sebagai wakilnya. Saya kembali memeriksa kinerja sang wakil melalui metode yang sama di atas, dan saya menemukan beberapa prestasinya yang menonjol. Dibandingkan dengan saingannya, kedua orang ini langsung memeroleh simpati saya untuk dipercayakan mengurus Jakarta.

Di saat pemilihan ini, mulailah muncul serangan pencitraan dari para lawan politik mereka, terutama dari lawan pak Jokowi. Serangan yang diajukan adalah masalah agama (pak Basuki/Ahok), pencitraan, dan kemampuan yang belum teruji di tingkat provinsi. Serangan ini sebenarnya tidak masuk akal karena lawannya sudah teruji tidak mampu memperbaiki Jakarta karena pernah menjabat sebagai wakil gubernur dan gubernur namun tidak membawa perubahan berarti. Calon wakil gubernur saingan pasangan Joko Widodo-Basuki Purnama belum pernah masuk ke pemerintahan sipil karena beliau berasal dari TNI. Kalau mau jujur, justru calon ini yang belum/tidak menunjukkan kemampuan mereka. pilihan saya waktu itu: kalau mau Jakarta tetap sama: pilih gubernur incumbent, kalau mau ada perubahan (bisa lebih baik atau lebih buruk) pilih pasangan Joko Widodo-Basuki. Saya jelas mau ada perubahan di DKI.

Sesudah pasangan ini terpilih, ada beberapa perubahan yang langsung saya rasakan sebagai warga DKI Jakarta.

  1. Sesudah saya kembali dari Belanda, saya perlu mengurus surat-surat identitas saya kembali di Jakarta: memperpanjang KTP, E-KTP, SIM A, Kartu Keluarga, dsb. Awal Februari 2012, saya mengurus perpanjangan KTP (saya tidak mau menggunakan calo dan mengurus sendiri semuanya). Pada hari pertama, saya datang mendekati pukul 12 (makan siang), semua petugas sudah pergi istirahat dan kembali pada waktu yang tidak dapat dipastikan. Saya harus kembali keesokan harinya. Proses pengurusan KTP memakan waktu seminggu dengan surat-surat yang lengkap. Perpanjangan SIM A hanya memakan waktu sejam di Kebon Nanas (juga mengurus sendiri). Di akhir 2013, saya mengurus KTP baru/pindah karena tempat tinggal dan status pernikahan yang berubah. Ketika saya mengurus perpindahan KK, petugas di kantor Camat minta maaf karena Camat tidak ada di tempat dan berjanji untuk menyelesaikan proses itu sore hari itu juga. Besoknya semua dokumen saya selesai sambil menerima senyuman dan membayar biaya resmi yang tidak mahal. Ruang tunggu Kelurahan sudah nyaman, dan prosesnya hanya sehari langsung foto, dan langsung jadi karena lurah/petugasnya ada di tempat. Saya mengambil ktp pkl 16.00, menjelang waktu pulang, dan semua petugas masih ada di tempat.

Perubahan: tempat yang nyaman, senyuman, permintaan maaf ketika petugas tidak ada, dan proses yang cepat.

  1. Pada awal 2012, terjadi banjir besar. Saya harus menumpang ojek untuk mengejar kelas yang harus saya ajar, lalu tiba di kampus menemui hanya beberapa orang mahasiswa karena yang lainnya terjebak banjir. Lalu pada awal 2013, masih ada banjir besar dan tanggul bocor. Banjir ini hampir sama dengan 2012, efeknya juga hampir sama. Tapi pada 2014, sudah tidak ada banjir besar, genangan hanya terjadi di beberapa tempat. Posko banjir yang kami dirikan di kampus pada 2012, 2013, dan 2014 berbeda dari segi durasi (2012 lebih lama), kualitas (2012 lebih sibuk dan becek), koordinasi (2014 lebih baik, mungkin karena semakin berpengalaman dan banjirnya juga tidak begitu besar).

Perubahan: banjir menjadi less significant dalam tempo 1 tahun.

  1. Kartu Sehat Jakarta. Di Belanda, semua penduduk harus memiliki asuransi kesehatan yang menjamin mereka atas akses rumah sakit kapan saja dan di mana saja. Saya sangat bangga memiliki kota yang sekarang memberi akses kepada setiap warganya menikmati teknologi kesehatan. Memang ada kekurangan di sana-sini, namun itu disebabkan euforia warga yang belum pernah memiliki akses ini. Tentu, masih ada ruang untuk perbaikan, misalnya, warga harus lebih dulu memeroleh rekomendasi puskesmas sebelum mereka pergi ke dokter umum/spesialis di rumah sakit.

Perubahan: Warga Jakarta memiliki kartu sehat.

 

Masih ada beberapa perubahan lain yang saya lihat seperti semakin tertatanya taman kota, jalur three in one yang semakin serius dikelola (dengan pelarangan joki), dan semakin banyaknya anggota pemda DKI yang ketar ketir karena ketatnya pengawasan pimpinan (pengakuan beberapa orang pegawai pemda DKI yang saya kenal). Pendapatan daerah Jakarta juga naik dari 28,3 T menjadi 42,5 T. Pengawasan jadi electronic (e-budgeting) yang membuat mereka diganjar hasil WDP dari BPK (Wajar Dengan Pengecualian – turun dari Wajar Tanpa Pengecualian). Hal ini tentu wajar, karena besarnya peningkatan pendapatan daerah, perubahan sistem, banyaknya pekerjaan yang dilakukan di 2013, plus masih nakalnya para pegawai pemda DKI (contohnya Kepala Dishub DKI). Sistem lelang lurah yang dilakukan berdasarkan kinerja juga menunjukkan kinerja yang baik. Serangan DPRD DKI yang bertubi-tubi memperlihatkan betapa takut dan bencinya anggota DPRD – yang sebagian besar tidak terpilih lagi – terhadap pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur. Ketakutan mereka justru semakin meyakinkan saya bahwa beliau adalah calon yang potensial.

Sekarang, Pak Joko Widodo dicalonkan oleh PDIP untuk menjadi capres RI 2014-2019 bersama dengan Pak Jusuf Kalla. Saya memang berpikir, mengapa terlalu cepat sementara tugas gubernur DKI belum selesai. Namun, saya melihat banyak penyelesaian masalah DKI Jakarta yang tergantung pada pemerintah pusat, misalnya Kementerian PU (kasus jalan raya), DPR-RI, Kementerian Dalam Negeri (koordinasi dengan kepala daerah lain soal penghijauan dan jalur air Jakarta), dsb. Pak Joko Widodo akan membantu program DKI dari Istana Negara. Lalu apa rencananya untuk Indonesia?

Visi pak Joko Widodo, adalah memulai dengan perbaikan mental rakyat Indonesia. Karena beliau tidak memiliki beban masa lalu, atau hutang politik terhadap pihak lain, dia bebas melakukan apa yang dia rencanakan. Saya menyukai prinsip beliau untuk mendengar langsung dari bawah dan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Beliau menjamin keberagaman Indonesia. Beliau juga peduli terhadap sektor pendidikan dan pembangunan kekuatan maritim dan pertanian Indonesia. Di saat yang sama, dia juga melek teknologi Informasi dalam pertahanan dan keamanan, dan menginginkan Indonesia untuk memperkuat segala basis yang ada dalam rangka pasar bebas 2015. Saya yakin beliau bisa melakukannya jika dia memilih orang yang tepat, bukan karena janji politik.

Banyak harapan yang diletakkan di atas pundak Pak Joko Widodo. Dari beberapa debat, saya memperhatikan perubahan dan perkembangan beliau. Dia mau menerima masukan, mempersilahkan temannya untuk urun rembug, namun juga tegas ketika diperlukan. Karena ini, dia ditakuti lawannya, dan tidak disukai kawannya.

Saya merasa PDIP tidak serius menggarap pencalonan ini karena mesin partai tidak bergerak dalam pencalonan Joko Widodo menjadi presiden, tidak seperti pasangan lain. Beberapa orang di PDIP mungkin merasa bahwa Joko Widodo tidak akan memberi keuntungan kepada partai karena dia orang yang memilih kualitas bukan negosiasi politik. Karena ketakutan ini, saya menduga kalau mereka tidak serius mendukung dalam pendanaan kampanye, terutama dalam segi alat peraga. Saya melihat berbagai spanduk, stiker, poster, info, dsb, kebanyakan justru berasal dari relawan dan bukan dari partai.

Ketidakseragaman informasi para relawan menjadi kekayaan dan kekurangan timses pak Joko Widodo. Ini juga memperlihatkan kelemahan bahwa dia tidak sepenuhnya didukung partai pengusungnya, namun menjadi kekuatan karena dia sepenuhnya didukung rakyat. Mereka pertama diserang oleh orang-orang yang dulu berusaha mengganjal pak Joko Widodo menjadi gubernur DKI, dan sekarang memintanya untuk tetap menjadi gubernur (sungguh aneh). Serangan masif terhadapnya datang dari segi agama, penampilan, fisik, keluarga, yang semuanya adalah fitnah. Fitnah terakhir mengatakan bahwa dia memiliki anak dari istri lain, dan anak pertamanya bukan anak kandungnya. Yang menjadi luar biasa, fitnah ini dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama, yang menggunakan agama untuk kepentingan mereka sendiri namun tidak segan-segan untuk berbohong demi kemenangannya. Hal ini menunjukkan kepanikan para pendukung pasangan lain yang memiliki banyak sekali beban politis, deal-deal jabatan, beban masa lalu, dan biaya kampanye besar yang harus kembali sesudah pemenangan calon mereka.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, saya mendukung pasangan Jokowi-JK menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2014-2019. Saya menaruh harapan besar kepada pasangan Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla, karena Jokowi-JK adalah kita.

Salam dua jari!

@binsarpakpahan

Viewed 26538 times by 7262 viewers

7 Comments

  1. alasan pak Binsar memilih Jokowi juga sama dengan saya. salam 2 jari

  2. kathy sihombing

    Lohhh koq jadi kampanye sihhh! Ini kan juga spt kampanye, sebaiknya hamba Tuhan neutral saja gmana! saya jadi gak tertarik sama tulisan ini maaf saja thanks!

  3. Inang Kathy, justru warga negara yang baik harus memilih. Saya tidak mengajak inang untuk memilih pilihan saya, juga tidak menghimbau yang lain, atau bahkan mengatasnamakan hamba Tuhan, Tuhan sendiri, agama, atau gereja. Saya menggunakan hak suara dan hak pilih saya sebagai pribadi untuk menulis sesuatu di blog pribadi saya. Saya tidak pernah menyebutkan ini dalam khotbah saya, karena mimbar adalah untuk firman Tuhan. Sebagai tanggung jawab saya kepada Tuhan sebagai warga negara yang baik, saya punya pilihan dan memberi alasan mengapa saya memilihnya. Inang bisa bandingkan tulisan pribadi ini dengan edaran sebuah persekutuan gereja yang menyatakan dukungan kepada calon tertentu atas nama wahyu Tuhan dan mendorong semua warganya untuk memilih calon tertentu. Sebagai warga negara, saya menggunakan hak ini. Salam,

  4. chittra swastiekka

    Tadi sy kdatngn teman dr surabaya.dia bercerita bahwa bekas tmn sekolah dia dan org2 sekitar surabaya bnyk brkata bahwa jokowi gagal mmimpin jkt.ga ada hasil sama skl.temn sy sudah mnjelaskn bahwa smua itu fitnah.krn tmn sy sdh bolak balik jkt srby.jd tau kl skrg jkt jauh lebih baik.tp percuma di jelaskn.mrk tidak percaya.org di desa ga paham internet.harusnya pihak jokowi tanggap itu.hrs ada solusi supaya org2 di desa tau kbenarannya.

  5. Sudah sepatutnya kita menggunakan hak pilih kita. Profesi di negara ini yang tidak bisa memilih adalah tentara dan polisi yg masih aktif bekerja; yang lain harus milih termasuk pendeta ya…. Menulis tentang prestasi yg baik dari satu capres dianggap kampanye, kalau yang ditulis yang jelek dibilang black campaign. Serba salah nih jadinya. :-) anyway tulisannya bagus.

  6. Tulisannya bagus dan jelas, Binsar! Teman-teman saya di Solo juga sependapat dengan apa yang Binsar dengar tentang kinerja mantan walikota Solo tersebut. Btw, apa yang diangkat tentang keanehan mereka yang dulu mengganjal JW untuk mejadi Gubernur Jakarta tetapi sekarang menginginkan dia tetap jadi gubernur benar-benar tepat! Salam dua jari. Yadi

  7. Inspiratif! Pertama, orang Kristen harus celik akan hak pilih ya. Kedua, pendeta juga membumikan teologinya. Ketiga, pemikiran dituangkan dalam cara yang objektif, tidak mendiskreditkan siapapun.

It will be great to have your reply here