Pengalaman Saya Studi S3 di Belanda

amsterdam baruDSC03610MY STORY #mystory (part 2 – Doktoral)

Setelah tiba di Belanda, saya menggunakan aji mumpung (maklum darah muda). Saya jalan-jalan ke Boston (bertemu Joas Adiprasetya dan Abraham S. Wilar) lalu mendesain studi saya. Karena beasiswa yang pas-pas-an, jalan-jalan itu menghabiskan uang saya, sehingga saya bekerja menjadi pelayan restoran Indonesia di Amsterdam. Saya juga kemudian mendaftar bekerja sebagai koster di gereja Internasional di Amsterdam – lalu saya jadi drummer juga di gereja itu (tapi hanya dibayar untuk pekerjaan koster-nya). Karena pekerjaan ini, saya jadi punya uang untuk jalan-jalan dan beredar di Amsterdam dan sekitarnya: main band, main bola, nongkrong, dsb – anak gaul-lah . Studi saya agak dikesampingkan, dan saya jadi rajin menulis blog (juga dikenalkan oleh JA di Boston). Ko-promotor saya agak khawatir, lalu meminta saya untuk serius.

Awal 2008, Ketua STTJ yang baru, pak Jan Aritonang, menghubungi saya untuk menandatangani kesepakatan bersama bahwa saya jadi FDP STT dalam kerjasama dengan HKBP. Ada satu klausul yang membuat saya kembali berontak, yaitu bahwa kalau saya selesai studi, saya harus kembali dan mengajar. “Saya mau jadi pendeta bukan jadi dosen,” begitu kata hati saya. Wibawa Pak Aritonang membuat saya menandatangani surat kerjasama pada April 2008, ketika beliau mengunjungi Belanda (padahal saya berusaha menghindar). Setelah perjanjian ini saya mendapat beasiswa ekstra dari kerjasama STT, yang menurut promotor saya adalah hasil usaha dia mencarikannya, hanya saja untuk mendapatkannya, saya harus terikat ke institusi di Indonesia. Hati saya kembali berontak, dan proses studi kembali jadi terhambat. Karena uang ekstra ini, saya tidak lagi bekerja di Restoran (karena saya juga over qualified untuk jadi pelayan restoran sehingga tidak diizinkan pemerintah Belanda). Saya masih bekerja sebagai koster, karena saya suka di gereja itu, sambil terus bermain musik.

Pada Maret 2008, saya mendapat panggilan HKBP untuk kembali dan ditahbiskan sebagai pendeta. Saya sempat protes dan mengusut, karena menurut saya, meskipun saya sudah 5 tahun jadi calon pendeta (dan total 3 tahun praktek), saya kan tidak berhak ditahbis karena tidak berada di Indonesia. Ternyata pendeta ressort saya meminta sinode untuk memanggil saya. Ada juga kekhawatiran bahwa saya tidak mau kembali ke HKBP. Pada Mei 2008, saya kembali, mengikuti ujian gerejawi dan ditahbiskan menjadi pendeta HKBP di tengah-tengah studi saya. Sebuah karunia yang sangat saya syukuri, bahwa justru ketika saya tidak mengharapkannya, Tuhan memanggil saya untuk menerima tahbisan ini.

Selama saya di Belanda, saya juga rajin melayani jemaat-jemaat Indonesia, juga anak-anak muda di sana. Saya membuat Bible Study group sendiri di kamar saya, mengundang mahasiswa yang ada, dan berusaha membuat religiusitas menjadi “cool and funky.” Usaha ini agak berhasil, karena kalau band saya tampil di cafe di Amsterdam, ada saja orang yang bertanya, kapan kita Bible Study lagi. Saya melanjutkan studi – dan tetap banyak fokus pada pelayanan dan pergaulan saya .

Di tahun 2009, promotor saya berganti. Prof. Eddy Van der Borght (tadinya ko-promotor) yang baru saja memeroleh guru besarnya dalam bidang Rekonsiliasi, menjadi promotor utama saya, dan Prof. Bram van de Beek jadi ko promotor (lalu hanya jadi pembaca, karena alasan personal – pensiun). Penelitian saya tetap berjalan seperti biasa.

Pada pertengahan 2010, beasiswa saya yang 3 tahun habis. Saya juga belum mau menyelesaikan disertasi saya (tinggal 1 bab lagi), karena saya belum rela jadi dosen. Ternyata Tuhan punya jalan lain. Gereja Kristen Indonesia di Netherland menghubungi saya dan meminta saya menjadi pelayan penuh waktu untuk Jemaat Tilburg dan Arnhem-Nijmegen (untuk 1 tahun). Konsekuensinya, waktu saya akan betul-betul tersita, dan saya pun harus pindah kota. Saya menyambut panggilan ini dengan gembira, karena kerinduan saya untuk memegang jemaat penuh sesudah ditahbis menjadi pendeta sekarang bisa kesampaian. Pindahlah saya ke Arnhem, dengan persetujuan dosen pembimbing saya. Entah mengapa dia punya keyakinan bahwa saya akan lebih fokus lagi sesudah melayani, padahal banyak orang di fakultas kami di VU meragukannya. Waktu bebas saja saya banyak main-main, apalagi kalau melayani, begitu pikir mereka.

Pelayanan di GKIN saya lakukan dengan penuh rasa syukur, sambil mengerjakan disertasi di waktu luang, dan pergi ke Amsterdam untuk konsultasi. GKIN menawarkan perpanjangan kontrak, dan saya setuju untuk memperpanjang sampai akhir 2011, karena saya menargetkan bahwa saya akan selesai dan kembali ke Indonesia untuk menikah . Dengan pergumulan, pelayanan, studi, kerja keras, doa dan berkat Tuhan, semua selesai dengan baik, dan saya promosi di penghujung 2011, dihadiri oleh sebagian besar jemaat saya. Baru kali itu ada promosi yang dihadiri begitu banyak orang dan semua tamu dapat makanan, begitu kata promotor saya. GKIN mencoba menggoda saya untuk tetap tinggal dan menjadi pendeta mereka satu periode lagi (4 tahun). Namun demikian, saya tetap memegang perjanjian yang sudah saya tandatangani, bahwa saya akan pulang setelah studi selesai.

Memang ada kekecewaan karena saya tidak lulus Cum Laude untuk doktoral saya, namun saya memeroleh grant untuk menerbitkan disertasi saya – dan kata promotor saya harus bersyukur untuk penghargaan itu. Tetapi kalau melihat kembali, saya bersyukur memiliki pengalaman spiritual, melayani, dan belajar. Pengalaman menjadi pendeta jemaat sambil studi – sambil menjaga skype relationship saya dengan tunangan saya – adalah sebuah pelajaran berharga yang membuat saya lebih matang dalam penyelesaian studi saya. Ada banyak nama yang patut disebut atas jasa mereka untuk studi saya, misalnya keluarga Haisma-Saragih, dan keluarga Liem-Simon. Sekarang saya siap memberikan yang terbaik bagi STT Jakarta. Pada akhirnya hanya nama Tuhan yang dimuliakan.

Viewed 55042 times by 9774 viewers

One Comment

  1. Kalau sekadar membaca tulisan ini, seakan semuanya mudah. Padahal semua ini melibatkan pertaruhan emosional yang dalam, kegigihan yang tiada putusnya, dan doa yang berkepanjangan … Selamat melayani di ladang yang semakin tandus yang sangat membutuhkan irigasi yang sangat baik dan terus-menerus di tengah banyak hal yang semakin menggerus, pak pendeta.

    Horas! Horas! Horas!

It will be great to have your reply here