Pengalaman Saya Studi S2 di Belanda

di VU1842MY STORY #mystory (part 1 – Magister)

Sebelum selesai studi sarjana dari STT Jakarta, ada pergumulan batin, apakah saya siap jadi pendeta atau tidak. Saya berpikir bahwa studi lanjut mungkin bisa memperkuat vocation saya untuk menjadi pelayan Tuhan. Di tahun ke-5 studi (2002), saya sudah rajin browsing dan mencari informasi mengenai beasiswa dan studi lanjut, tujuan saya waktu itu ada dua Jerman atau Belanda. Mengapa Eropa? Saya suka dengan sejarah, suasana klasik, dan budaya belajar yang mereka miliki. Saya tahu mengenai hal ini karena saya pernah mengunjungi kedua negara ini sebelumnya (urusan personal – keluarga).

Saya kemudian memutuskan untuk menghubungi VU Amsterdam untuk program Living Reformed Theology dan Leiden Universiteit untuk program Philosophical Ethics. Keduanya memberi respons yang baik. Lalu, dalam sebuah kesempatan baik, di mana saya menjadi conference assistant untuk konferensi teologi yang diorganisir oleh Pak Kadarmanto Hardjowasito, ternyata semua guru besar dari Belanda – termasuk orang yang berkorespondensi dengan saya dari VU Amsterdam – datang ke Indonesia. Di Kinasih, saya bercakap-cakap lebih lanjut mengenai program yang ingin saya ambil, dan Prof Bram van de Beek dan Dr. Eddy Van der Borght membuka peluang beasiswa untuk saya. Setelah pembicaraan tersebut, saya memasukkan pendaftaran resmi saya ke kedua universitas, sambil memasukkan juga lamaran ke HKBP – gereja saya. Ternyata HKBP memanggil saya untuk menjalani proses ujian calon pelayan, dan puji Tuhan saya lulus. Ketika menjalani praktek selama 6 bulan, saya menerima surat dari VU Amsterdam menyatakan bahwa saya memeroleh beasiswa penuh untuk program Master di sana. Dengan agak gentar (karena status saya sebagai calon pdt praktek baru 6 bulan), saya mengkonsultasikan peluang ini dengan Sekjen HKBP waktu itu (Ephorus HKBP sekarang), dan beliau mendorong saya untuk berangkat.

Akhirnya berangkatlah saya pada tahun 2004 ke Amsterdam, menyelesaikan studi dengan baik pada tahun 2005. Di Amsterdam, kerja saya hanya belajar dan belajar, tidak sempat jalan2 atau bersenang-senang (alasan ekonomi juga). Di tengah proses belajar, professor saya rupanya berkomunikasi dengan Ketua STTJ (Pak Robert Borrong) yang sedang dibimbingnya untuk promosi doktoral ulang mengenai saya. Atas komunikasi mereka, pak Borrong menawarkan kepada saya untuk masuk dalam Faculty Development Program STTJ. Professor saya juga mendorong saya untuk melanjutkan ke tingkat doktoral. Setelah kembali ke Jakarta, Sekjen HKBP meminta saya kembali menemani beliau. Saya tahu kalau saya kembali ke Tarutung, maka program studi bisa terhenti.

Akhirnya, saya memberanikan diri untuk menolak permintaan Sekjen (sambil tidak mau mencemplungkan diri dalam pergumulan politik gerejawi), dan beliau menghargai keputusan saya. Saya melanjutkan praktek pendeta saya di Jemaat kecil di Jakarta, HKBP Diaspora, sambil bekerja di PGI (permintaan Sekum PGI Richard Daulay), sambil mencari beasiswa untuk studi S3 saya. Saya diterima menjadi promovendus pada tahun 2006, namun visa saya ditolak karena jaminan keuangan yang tidak cukup (padahal waktu itu saya sudah berhenti dari PGI dan mengadakan acara perpisahan – ckckck).

Saya mengirim proposal bantuan beasiswa secara sporadis, namun semua menolak, kecuali satu. Dua minggu setelah permohonan izin tinggal saya ditolak pemerintah Belanda, saya mendapat panggilan wawancara beasiswa. Tiga kali saya diwawancara, salah satunya oleh Pak Albert Widjaja, sekarang di Program Manajemen UI. Saya lulus, dan mereka bersedia membiayai saya selama 3 tahun. Puji Tuhan. Pada Mei 2007, saya berangkat ke Belanda untuk studi doktoral saya.

Viewed 56365 times by 10257 viewers

It will be great to have your reply here