Menjadi Pendeta Dan Teolog

Posted by binsar on 02 Dec 2007 at 07:16 am | Tagged as: Christianity, Opinion

Pertama ijinkanlah saya mengucapkan selamat buat sahabat, saudara, dan kolega saya Hendra Setia Prasadja yang ditahbis ke dalam jabatan pendeta di GKI pada hari ini. Hendra adalah seorang yang selalu berbagi suka dan duka dengan saya di masa perkuliahan dulu. Bersama Henry (vikaris GPIB) dan Ray (Penatua khusus GKI), kami bahkan memberi nama yang cenderung eksklusif bagi diri kami karena kedekatan yang tidak disengaja. Karena itu saya merasa sangat senang ketika Hendra mengabarkan berita penahbisannya dan meminta saya untuk menyumbangkan sebuah tulisan untuk buku acara hari bersejarahnya ini.

Belakangan ini banyak pertanyaan yang diajukan untuk menggugat teologi STT Jakarta yang katanya ‘liberal’. Dalam perbincangan dengan rekan mahasiswa, beberapa mengeluhkan bahwa mereka menjadi semakin jarang beribadah semenjak masuk STT Jakarta. Hati mereka menjadi guncang ketika sepertinya harus menentukan apakah mereka akan menjadi teolog atau pendeta. Entah pilihan ini sedang jadi trend atau bukan, kebimbangan ini dirasakan justru sesudah masuk STT. “Toh, STT Jakarta kan berfungsi melahirkan teolog, bukan pendeta” kata teman saya ini. Sepertinya STT Jakarta berfungsi mencetak pemikir-pemikir tangguh dalam bidang teologi (baca: teolog), dan gerejalah yang mencetak pendeta.

Pameo yang berkembang kemudian sepertinya teologi dan pembelajaran menjadi pendeta adalah berbeda. Bahkan lebih jauh lagi, sekarang banyak pemikiran bahwa seseorang bisa belajar teologi agama tertentu tanpa mengimaninya. Teologi adalah ilmu, jadi kita tidak perlu menjadi seorang yang percaya untuk dapat mempelajarinya. Saya berpikir bahwa ini bisa menjadi topik yang baik untuk ditulis untuk memberikan kesadaran akan pilihan-pilihan yang ada di dalam berteologi.  Pertanyaan utamanya adalah apakah teologi dan iman bisa dipisahkan? Ini adalah sebuah perdebatan sepanjang masa yang masih hangat sampai saat ini.

Apakah teologi itu? Banyak definisi tentang teologi. A. van de Beek, professor sistematika asal Belanda mengatakan bahwa teologi adalah menceritakan kembali bagaimana Allah bisa menyentuh hati manusia. Teologi tidak bercerita tentang apa yang engkau lakukan, melainkan bercerita tentang apa yang telah terjadi dan apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Kita adalah subyek dari kalimat pasif Allah. Apakah yang disebut orang percaya? Menjadi percaya berarti telah disentuh oleh Allah, mengubah sikap dan gaya hidup menjadi hidup yang takut akan Allah, dan terbuka atas segala hal yang terjadi di sekeliling kita. Menceritakan bagaimana Allah menyentuh manusia mengandaikan bahwa kita juga percaya dan sudah disentuh oleh kisah itu. Kita tidak dapat menceritakan kisah Allah yang telah menyentuh kecuali kita juga telah disentuh.

Seorang teolog juga harus terbuka terhadap hal-hal yang datang kepada dirinya. Dia harus memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap segala sesuatu. Karena keterbukaannya, seorang teolog juga akan menjadi rentan. Sikap terbuka dan rentan ini diperlukan untuk menjaga kekritisan kita terhadap hal-hal di sekitar yang selalu berkembang dan berubah.

Bagaimana dengan seorang yang belajar teologi tanpa menjadi orang percaya? Seseorang yang tidak percaya juga bisa mempelajari cerita-cerita mengenai kasih Allah ini. Namun ketika dia tidak percaya, yang dia lakukan hanya mempelajari tentang ceritanya, belajar latar belakang cerita tersebut, mengenali sejarahnya, tanpa membiarkan cerita itu menyentuhnya. Dia tidak belajar mengenai bagaimana Allah bisa menyentuh orang-orang yang menceritakan kisahnya di dalam Alkitab, karena dia sendiri tidak pernah mengalaminya.

Alkitab adalah sumber utama untuk menjadi seorang teolog. Membaca Alkitab adalah hal yang paling utama yang harus dilakukan seorang teolog. Luther dan Calvin adalah tokoh reformator yang berusaha menekankan hal ini dengan lebih banyak mengacu kepada sumber Alkitab dalam tulisan-tulisan mereka. Firman Allah harus menyentuh pembacanya, karena Alkitab adalah kitab yang dapat membaca kita. Kesadaran akan konteks penulisan dan pengembangan Alkitab itu juga penting untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya dari cerita tersebut. Alkitab bukanlah rumusan moral atau etika, melainkan cerita dan kesaksian orang-orang percaya mengenai perjumpaannya dengan Allah. Kesaksian di dalam Alkitab harus didialogkan dengan konteks kita, pengalaman kita sendiri, dan dengan seluruh tradisi orang-orang percaya. Sebuah jaringan hermeneutis dalam menafsir dibutuhkan untuk mengerti apa yang hendak dikatakan oleh teks tersebut.

Seorang teolog harus memiliki pengertian yang lebih mendalam tentang Allah dengan berani dihadapkan dengan pengalaman-pengalaman baru, dan mencoba memikirkan ulang ide-ide dan sikap mereka. Untuk tahu di mana posisi pemikiran kita yang sebenarnya, kita justru harus mendengarkan mereka yang tidak setuju dengan kita. Kita bisa mengetahui di mana kita dengan bercermin dari ujung yang lain dari pemikiran kita, mendengarkan, dan berdialog dengan mereka, lalu menjadi semakin diyakinkan akan kasih Allah. Karena itu tidak ada teolog yang berdiri statis, mereka selalu mengembangkan pemikirannya dan tidak jarang kelihatan seperti menentang sendiri pemikirannya yang terdahulu.

Tidak ada bab yang selesai dibahas dalam teologi, semuanya selalu dibicarakan kembali dalam semangat baru. Salah satu tugas penting dalam berteologi juga untuk membuka topeng teologi-teologi yang mengira bahwa mereka bisa memahami Allah, menjadi kritis bagi mereka yang mengaku mengerti sepenuhnya apa yang menjadi teologi Alkitab. Teologi menjadi sebuah ilmu karena kekritisannya. Ketika kita bisa menjelaskan Allah secara ontologis maka dia tidak lagi teologis.

Teolog harus menghubungkan dirinya ke gereja, karena Gereja adalah mempelai Kristus. Gereja adalah tubuh Kristus di mana terang kasihnya dibawa kepada seluruh manusia dan telah disucikan oleh Allah melalui Roh Kudus. Calvin menyebut Gereja sebagai ‘the external means or aids by which God invites us into the Society of Christ’. Manusia masih membutuhkan pertolongan dari luar dirinya untuk meningkatkan dan meneguhkan imannya, di sinilah Gereja berperan sebagai komunitas yang mengaku percaya. Teolog tidak dapat melepaskan dirinya dari Gereja sebagai orang yang telah disentuh oleh Allah dan perlu terus memperbarui pemikirannya dan Gereja membutuhkan teologi sebagai pemberi arah dan dialog dalam menjalankan misi Allah.

Apa hubungan hal ini dengan hidup berjemaat? Pemahaman teologis gereja tentunya tidak bisa lepas dari pemahaman umat karena Gereja adalah persekutuan orang percaya. Umat juga tidak boleh berpangku tangan dan menyerahkan semua urusan teologi kepada pendetanya atau teolognya. Umat bisa berfungsi sebagai penjaga tradisi sekaligus check dan balance paham-paham teologi baru. Jika hal ini terjadi maka sebuah dialektika yang sehat akan terjadi.

Saya tahu bahwa pemaparan yang saya berikan di atas bisa mengundang banyak pertanyaan bahkan ketidaksetujuan. Saya juga tahu bahwa saya hanya memberikan satu sisi dari sebuah koin. Teori yang menyatakan bahwa teologi tidak membutuhkan kacamata iman juga memiliki logika yang kuat. Yang saya coba berikan hanyalah sisi lain dari teori tersebut. kita bisa belajar teologi dengan membaca Alkitab sebagai sumber utama di dalam teologi. Kita bisa membaca Alkitab dan tahu pesan yang benar-benar ingin disampaikannya kalau kita juga “merasakannya” karena the bible reads you. Kita bisa merefleksikan kesaksian tersebut karena kita bersekutu dalam sebuah komunitas di mana kita bisa bercerita ulang mengenai bagaimana kisah tersebut juga menyentuh kita, mendengarkan cerita orang lain, dan berefleksi kembali akan pemikiran tersebut.

Saya senang karena banyak teman angkatan saya yang memutuskan untuk kembali menggulati teologinya dengan berjumpa kembali kepada gerejanya. Seliberal-liberalnya STT Jakarta, toh hampir semua tetap menjadi orang yang mengimani apa yang kami pelajari dan kemudian mengaplikasikan iman itu di tengah-tengah umat Tuhan, baik sebagai pendeta, pekerja sosial, guru, dan masih banyak lagi. Sebagai seorang sahabat, saya tahu bahwa Hendra adalah seorang yang mendalami dan mengimani apa yang dipelajarinya. Meskipun saya tidak bisa hadir pada waktu penahbisannya ini, doa saya selalu bersamanya dalam setiap pelayanannya. Selamat melayani Pendeta Hendra Setia Prasadja!

Binsar Pakpahan

Alumni STT Jakarta angkatan 1998, Calon Pendeta HKBP

(written in April 2007)

One response to “Menjadi Pendeta Dan Teolog”

  1. on 08 Jan 2008 at 5:29 pm # nando tabah
    Halo bro pa kabar lo? Dah gimana kuliah kapan mudik tuhuta?

Viewed 6349 times by 2269 viewers

One Comment

  1. semua disiplin ilmu berujung kepada aplikasi yang benar…..sehingga menjadi jawaban bagi permasalahan yang ada.

It will be great to have your reply here