Pelupanya Bangsaku!

Posted by binsar on 15 Nov 2007 at 03:08 pm | Tagged as: Article, Indonesia, Remembrance

Seperti sudah sudah menjadi tradisi, bangsa Indonesia memiliki masalah yang bertumpuk-tumpuk, yang mana setiap masalah itu tidak pernah diselesaian, melainkan ditutup dengan masalah yang lain! Banyak kasus-kasus yang tidak terungkapkan sampai sekarang yang sepertinya sudah dilupakan. Beberapa contoh kecil di antara mereka adalah kasus Trisakti, Semanggi, Tragedi Mei 98, pembunuhan Theys, pembunuhan Munir, dan masih banyak kasus lainnya, di mana yang masih terdengar sayup-sayup sekarang adalah suara mereka yang mulai parau meminta keadilan sejarah. Kasus yang dilupakan ini bukannya tanpa akibat, keresahan sosial hingga aksi separatis menjadi ancaman laten.

Dengan memasuki sebuah era keterbukaan, kita sebenarnya berharap bahwa akan semakin banyak orang yang tertarik untuk menjernihkan angkasa kelabu yang menyelebungi sejarah Indonesia. Suasana ini seharusnya membuat semakin banyak orang tertarik akan sejarah kita dan berusaha menemukan kebenaran di tengah kacaunya pencatatan sejarah bangsa ini. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, sejak reformasi peminat bidang studi sejarah justru semakin menciut sehingga beberapa program terancam bubar. Ada apa sebenarnya dengan bangsa ini? Kenapa kita cenderung menjadi pelupa?

Saya akan mencoba memaparkan beberapa analisis menarik atas masalah ini. Ada sebuah buku menarik yang diedit oleh Mary S. Zurbuchen (2005), sebagai hasil sebuah seminar pada April 2001 di University of California mengenai history and memory in Indonesia today. Buku ini berisi esai-esai yang mengeksplorasi ekspresi, narasi, maupun interpretasi masa lalu di Indonesia masa kini.

Goenawan Mohammad memulai analisanya dengan berpijak pada tahun 1928 di mana Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah Indonesia, ketika “orang-orang dari bermacam daerah dan suku di nusantara ini sepakat untuk ‘melupakan’ asal mereka yang beragam untuk menjadikan diri mereka bagian dari sebuah ‘komunitas imajiner’ yaitu Indonesia.” Indonesia dibangun atas dasar untuk melupakan. Alih-alih mengatakan bahwa mereka berasal dari beragam daerah dan menyatu menjadi bangsa Indonesia, para tokoh pemuda kita waktu itu mengaku “berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu, Indonesia.” Tanpa mengingat asal mereka yang beragam, para pemuda secara otomatis mengklaim bahwa mereka adalah orang Indonesia. Negara ini dibangun dari persetujuan untuk melupakan. Sekarang pengakuan nilai-nilai universal yang tercantum di dalam Sumpah Pemuda 1928 bisa ditantang lagi, apakah proses pluralitas Indonesia yang unik ini masih bisa dipertahankan.

Hendrik Maier, seorang Profesor Perbandingan Literatur dan Direktur dari program Southeast Asian Text, Ritual and Performance at the University of California, Riverside menunjukkan sebuah masalah dengan Bahasa Melayu. Bahasa Melayu tidak mengenal konsep waktu. Sebagai contoh, jika kita bandingkan dengan bahasa Inggris, maka kalimat: “Dia pergi ke kantor” bisa diterjemahkan dengan bermacam-macam kata kerja penunjuk waktu dalam bahasa Inggris. Kalimat tersebut bisa diterjemahkan menjadi, “he goes to the office”, “he will be going to the office”, “he went to the office”, “he was going to the office”, atau “he will go to the office.” Singkatnya, Maier menunjukkan bahwa kalimat sederhana “Dia pergi ke kantor” muncul dan menunjuk kepada kegiatan dan konteks yang sangat beragam dalam waktu yang bersamaan. Menerjemahkan bahasa Melayu ke bahasa Inggris adalah masalah menentukan pilihan di antara keenam kemungkinan tersebut. Terjemahan ini bisa semakin memusingkan apabila kata ‘kantor’ merujuk kepada jumlah yang tak pasti (bisa ‘offices’ atau ‘office’), juga bisa merujuk kepada sebuah benda pasti ‘the office’ atau tidak pasti ‘an office’, dan kata ‘dia; bisa diterjemahkan menjadi ‘he’ atau ‘she’.

Kesulitan menentukan waktu dalam bahasa Melayu bukan berarti orang yang menggunakan bahasa ini tidak bisa mengekspresikan waktu. Ada kata-kata yang bisa ditambahkan yang bisa merujuk kepada waktu tertentu, misalnya ‘akan’, ‘belum’, dan ‘sudah’. Karena masalah bahasa ini, Maier berkesimpulan bahwa proses mengingat sepertinya bekerja dalam cara yang berbeda. Sebagai konsekuensinya, ketika kita membaca sebuah narasi di dalam bahasa Melayu, pembaca dipaksa untuk menentukan konsep waktu cerita itu dalam sebuah konteks tertentu dan membuat cerita itu dalam urutannya sendiri. Maier mengatakan bahwa “Kita (para pembaca) harus menciptakan daripada menemukan arti; yang tersirat di antara kata-kata itu; kita membentuk sendiri sebuah kesadaran mengenai proses waktu yang terdapat dalam narasi daripada memastikannya dari teks itu sendiri. Akibatnya adalah proses mengingat akan selalu terombang-ambing dalam proses tanpa henti ini.”

Jika kita menggunakan kacamata bahasa Inggris, kelihatannya sukar untuk menentukan sebuah perasaan akan waktu di dalam bahasa Melayu. Pembaca dipaksa untuk menciptakan waktu mereka sendiri daripada menemukannya. Ini akan mengakibatkan pembaca akan mendefinisikan apa arti ingatan bagi mereka. Ini mungkin menjadi salah satu penyebab sulitnya bangsa Indonesia untuk mengingat.

Faktor monopoli pemerintah atas sejarah nasional juga menjadi salah satu hal yang menyebabkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pelupa. Sejarah Indonesia ditentukan oleh penguasa. Tidak heran, buku sejarah kita kerap kali berubah setiap pergantian pemerintah. Media juga turut berperan, terutama semasa 32 tahun masa pemerintahan Presiden Soeharto, dalam mempengaruhi bagaimana orang Indonesia melihat sebuah peristiwa dengan benar. Peristiwa yang sebenarnya terjadi bisa dihapus dengan kampanye pemerintah melalui media yang mereka kontrol.

Sekarang kita bisa mengerti mengapa bangsa Indonesia sepertinya menjadi bangsa yang pelupa. Namun di tengah-tengah bangsa yang pelupa, pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi patut kita sambut gembira. Komisi ini akan membantu kita mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus-kasus yang saya sebutkan di atas, sebelum kita benar-benar melupakannya. Mereka juga akan membuka sebuah perspektif baru dalam proses mengingat di Indonesia. Karena itu, Indonesia seharusnya memulai sebuah babak baru dan mulai mengingat sejarahnya.

2 Responses to “Pelupanya Bangsaku!”

  1. on 19 Nov 2007 at 5:58 am # Wazeen
    kita memang harus menulis lebih panjang dan lebih banyak lagi untuk sekedar mengingat meski akan memakan banyak lembar kertas konvensional dan kertas cyber asal keterangan waktunya jelas, ya: belajar mengingat
  2. on 22 Nov 2007 at 7:18 pm # binsar
    ya… mungkin juga karena bangsa kita punya tradisi oral dalam mengingat, dan tradisi ini sering dimanipulasi oleh mereka yang punya kuasa. karena itu menulis juga adalah salah satu tradisi baik yang harus kita ciptakan, ya ga zeen??

Viewed 6332 times by 2234 viewers

It will be great to have your reply here