Keluar Dari Comfort Zone

Feb 9, 2010 9:54 PM/ by binsar

Minggu Epiphani 6

Perki Buitenveldert

Markus 1:29-39

Keluar dari Comfort Zone

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Ada berapa orang yang bisa menyetir di sini? Saya tahu ada beberapa orang yang suka sekali menyetir mobil. Saya mengenal seorang bapak yang ke manapun dia pergi, jauh dekat, dia lebih memilih mengendarai mobil daripada dengan kereta api ataupun pesawat terbang. Kalau sedang jalan dengan keluarga pasti dia yang menyetir karena dia tidak mempercayakan orang lain untuk menyetir. Hal ini hampir sama seperti prinsip tukang becak di medan yang tidak percaya kepada orang di depannya, makanya supir becak di medan duduknya di samping dan bukan di belakang. Meskipun di dalam satu mobil semua orang bisa menyetir, bapak ini tetap memilih untuk mengendarai mobil sendiri. Kalau dia harus duduk di belakang dia akan sering mengomentari cara orang yang sedang menyupir. Suatu waktu dia jatuh sakit dan dokter melarangnya melakukan pekerjaan berat. Dia terpaksa duduk dan disupiri. Ketika dia disupiri ternyata dia takjub melihat bangunan2 di sekitar rumahnya yang dia tidak pernah perhatikan ketika menyetir. Dia bisa melihat pemandangan dalam perjalanan piknik keluarga. Dia merasa banyak hal baru yang tidak dia temukan ketika dia harus menyetir. Ternyata keluar dari kebiasaan dan zona nyaman membuat dia belajar hal baru dalam hidupnya. Sejak itu dia tidak mau lagi mengendarai mobil kalau tidak terpaksa dan akhirnya merepotkan orang juga karena harus disupiri terus.

Dulu ketika saya kerja di restoran, saya tahu ada beberapa pelanggan tetap yang selalu memesan makanan dan minuman yang sama tiap minggu, bahkan tempat duduknya juga harus di tempat yang sama. Mereka merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Kadang-kadang mereka tidak mau lagi mencoba rasa yang lain. Kalau saya menanyakan makanan yang lain mereka akan merasa terkejut dan bisa saja menolak makanan yang padahal lebih enak dari makanan yang mereka pesan. Mereka terjebak di dalam comfort zone mereka dan tidak mau mencoba sesuatu yang baru.

Comfort zone, hari ini kita bicara tentang mendengar apa kata Allah di dalam hidup kita, meskipun itu akan membawa kita keluar dari comfort zone kita.

Comfort zone adalah sebuah tempat/keadaan/lingkungan/perasaan yang mana kita merasa nyaman di dalamnya tanpa ada resiko di dalamnya. Banyak orang yang merasa nyaman di tempat ini akan menciptakan batasan untuk tidak keluar dari kebiasaannya sendiri. Orang menolak untuk keluar dari zona ini karena dia harus beradaptasi kembali dan menjalani pengalaman yang belum tentu dia sukai. Karena itu sangat sulit bagi seseorang untuk keluar dari zona nyamannya.

Saudara, pada waktu ini Yesus baru memiliki 4 murid, Simon dan Andreas, serta Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes (Mrk. 1:14-20). Mereka semua adalah nelayan yang sekarang menjadi penjala manusia. Tetapi pada saat cerita ini ditulis, mereka belum lama mengenal Yesus. Hanya satu mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus, yaitu mengusir roh jahat yang merasuki seseorang di luar sebuah rumah ibadat di Kapernaum (Mrk 1:21-28). Setelah selesai dari rumah ibadat, mereka menuju rumah Simon dan Andreas untuk makan. Ternyata ibu mertua Simon terkena demam. Para murid yang belum pernah melihat Yesus menyembuhkan orang sampai saat itu memberitahukan keadaan ini kepada Yesus, lalu Dia menyembuhkan perempuan itu.

Rupanya reputasi Yesus sebagai seorang pengusir Roh Jahat dan juga penyembuh langsung tersebar di kota itu. Malam itu juga banyak orang yang sakit dan kerasukan setan dibawa untuk disembuhkan. Ini adalah sebuah hari yang sibuk buat Yesus terutama buat para murid, karena dalam satu hari mereka melihat Yesus melakukan hal-hal yang luar biasa.

Saudara-saudara, ada dua hal yang mau kita lihat dari cerita kita hari ini.

Yang pertama adalah Yesus menentang kebiasaan yang ada untuk menyembuhkan kaum yang terpinggirkan. Kita sudah mendengar bahwa Yesus menyembuhkan seorang perempuan di hari Sabat. Adat Yahudi tidak memperbolehkan siapapun untuk bekerja pada hari Sabat, apalagi sampai menyentuh seorang lawan jenis yang bukan anggota keluarganya.

Lalu banyak orang yang dibawa ke Yesus adalah orang-orang terpinggir dan tidak lagi mendapat tempat di masyarakat. Kebudayaan masyarakat waktu itu menunjukkan bahwa mereka yang sakit bukan hanya kehilangan kesehatannya, tetapi juga kehilangan statusnya dalam masyarakat. Orang sakit dari lahir, keturunan, lepra, atau orang yang kerasukan setan adalah orang-orang yang disembunyikan dan menjadi beban masyarakat.

Hal ini membuat Yesus menentang kebiasaan yang ada ketika Dia menolong mereka yang disingkirkan ini. Kalau kita melihat cara Tuhan Yesus dalam menyembuhkan orang/mengajar, seringkali dia menggunakan metode/ajaran yang baru.

Dalam kehidupan gereja, kebiasaan seringkali menjadi peraturan. Ada orang yang merasa khawatir dan gelisah kalau kebiasaan itu dilanggar. Orang mungkin akan berkata, “Itu tidak biasa di sini.” “Cara pelaksanaannya bukan begitu.” Yesus datang dan mendobrak ini semua, yang penting adalah melaksanakan perintah Allah dan menolong mereka yang terpinggirkan.

Sekarang gereja yang sudah lama terbentuk biasanya akan terjebak dalam kebiasaan – apa yang biasa – dan kemudian takut akan perubahan. Sementara gereja yang baik adalah gereja yang harus terus menerus berubah dan disesuaikan dengan apa kebutuhan jemaat dan konteks sekitarnya di mana gereja itu berada. Yang sering terjadi adalah gereja terjebak dengan kebiasaan dan menjadikan hal itu sebagai peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi, yang bahkan sebenarnya melanggar pemahaman sesungguhnya tentang gereja.

Banyak orang kebakaran jenggot kalau ada sebuah kebiasaan yang normal yang dilanggar di gereja. Dulu ketika saya pelayanan di daerah, mereka tidak suka melihat pendeta memakai jeans. Atau mereka tidak suka dengan lagu tertentu karena menganggap lagu itu lagu persekutuan. Ada juga gereja yang tidak setuju kalau ada yang menggunakan gitar di dalam kebaktian karena itu tidak biasa buat mereka. Ini adalah contoh di mana kebiasaan menjadi lebih tinggi dari peraturan dan pemahaman yang sesungguhnya tentang gereja. Dalam banyak hal pendeta dan majelis lebih sering menjadi orang yang melestarikan kebiasaan ini. Mereka takut untuk keluar dari zona nyaman mereka.

Hal kedua yang mau kita lihat dari khotbah hari ini adalah, bahwa di tengah-tengah kesibukannya Yesus masih mengambil waktu untuk diam dan berdoaAyat 35 mengatakan bahwa, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Yesus berdoa dan ingin memiliki waktu khusus dengan Bapanya. Lalu ketika Petrus memanggil Dia karena banyaknya orang yang ingin bertemu, Yesus malah memutuskan untuk pergi mengelilingi Galilea. Yesus berkata, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

Arti ayat ini ialah Yesus mengambil saat teduh untuk mencari tahu kehendak Bapa dan Dia bersedia melakukannya meskipun itu berarti keluar dari tempat nyaman menuju ke sesuatu yang tidak pasti. Yesus bisa saja tinggal di Kapernaum dan menjadi orang hebat di sana karena mujizat yang telah dilakukanNya. Yesus bisa saja menjadi superstar dan memimpin umat di Kapernaum. Tetapi Dia memilih untuk menantang zona nyamannya dan pergi memberitakan Injil di kota lain. Ini dilakukannya untuk menuruti kehendak Bapa dari diriNya.

Sekarang berapa banyak dari kita yang menyempatkan diri di tengah kesibukan kita untuk mengasingkan diri dan berdoa kepada Allah? Yesus sering kali menyendiri dan berdoa ketika dia akan mengambil keputusan penting. Dia juga selalu mengikuti apa yang menjadi kehendak Bapa dalam hidupnya. Saudara, kehendak siapa yang lebih menguasai hati kita? Apakah kita mau menuruti kehendak Allah untuk memulai sesuatu yang baru yang mungkin belum jelas masa depannya untuk kita?

Ada trend baru belakangan ini, orang yang hidup di kota-kota besar cenderung menggunakan program meditasi untuk menenangkan diri. Kelas-kelas yoga (bukan hanya yang olahraga, tetapi lengkap dengan meditasi dan chantingnya) dan meditasi digunakan untuk mencari ketenangan jiwa. Kenapa ini menjadi trend? Karena kesibukan orang kota membuat mereka jenuh dan menyadari ada sesuatu yang kurang dari kebutuhan emosional mereka. Mereka sibuk melakukan apa yang dituntut dari diri mereka dan lupa mendengarkan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Ketika kita sibuk dengan kesibukan sendiri, sibuk dengan segala kegiatan, kita bisa kehilangan orientasi dan tidak lagi mendengarkan suara Tuhan. Bukan hanya suara Tuhan, kita bahkan tidak lagi mengenali suara hati kita sendiri.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita masih memiliki saat teduh di dalam hidup kita di mana kita membiarkan Tuhan menjadi suara di dalam hati kita? Bisakah kita menjadikan doa sebagai yang utama dan bukan hanya ban serep kalau situasi sudah menjadi semakin sulit?

Dan ketika kita mendengarkan suara Tuhan, maukan kita melangkah keluar dari zona nyaman kita untuk melakukan apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan?

Saudara-saudara,

Inti dari mujizat yang Tuhan Yesus lakukan dalam Injil Markus ini menunjukkan bahwa doa harus menjadi landasan kita dalam kehidupan. Doa harus menjadi dasar dan bukan cadangan.

Ketika kita berdoa kita akan memiliki komunikasi yang baik dengan Allah, dan akhirnya kita juga mungkin ditantang untuk keluar dari zona nyaman comfort zone kita. Kita mungkin ditantang untuk melakukan sesuatu yang tidak kita sukai atau melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan.

Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Kuasa Tuhan Yesus mendobrak batasan kebiasaan yang mengikat; dan Yesus juga berani mengambil keputusan yang tidak nyaman bagi dirinya sendiri untuk mengikuti kehendak Allah. Kiranya kita juga dimampukan untuk mencontoh apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Amin.

Viewed 8331 times by 3663 viewers

It will be great to have your reply here