“Tanggapan atas pernyataan Eggi Sudjana mengenai Trinitas”

Perichorese, Tanz der Dreinigkeit, Abstrakte Malerei, Acryl auf Papier, 30x40cm * Perichoresis, Acrylic on Paper, 12x16in

Perichorese, Tanz der Dreinigkeit, Abstrakte Malerei, Acryl auf Papier, 30x40cm * Perichoresis, Acrylic on Paper, 12x16in

trinity_symbol.276132420_stdSebenarnya polemik trinitas muncul karena bahasa yang kita gunakan tidak memiliki makna yang sama. Beberapa teolog mumpuni Protestan dan Katolik sudah menjelaskan doktrin ini dalam buku mereka seperti kolega saya Dr. Joas Adiprasetya dan Dr. Bambang Subandrijo.

Namun saya melihat pernyataan Eggi Sudjana sebagai kesempatan untuk menjelaskan pemahaman mengenai trinitas yang tidak berbeda dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Saya senang membaca sudah ada beberapa teolog Muslim yang terhormat yang menjelaskan apa itu Trinitas seperti Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal dan beberapa sahabat lainnya.

Sekarang, saya akan memberi penjelasan yang saya harap juga bisa dipahami oleh saudara-saudara saya yang berbeda agama mengenai Trinitas. Penjelasan ini saya tulis secara bertahap supaya tidak mengurangi makna. Meski demikian, penjelasan mengenai Trinitas pasti tidak mampu menjelaskan Keagungan Allah Sang Pencipta sepenuhnya. Tetap saja, sebagai orang yang belajar teologi, saya merasa perlu menjelaskannya. Di beberapa tempat saya akan memberikan referensi ayat Alkitab yang anda bisa cari sendiri teksnya, demi efisiensi penjelasan ini.

1. Kata trinitas tidak ada dalam Alkitab. Alkitab selalu mengungkapkan bahwa Allah itu Esa, dan orang Kristen tidak pernah juga mengatakan bahwa Allah ada tiga. Keesaan Allah ada dalam banyak teks Alkitab, misalnya
Ulangan 6:4 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa (satu).”
Bahkan Yesus sendiri mengatakan bahwa Allah adalah Esa dalam Markus 12:29 “Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”
Surat Paulus juga mengakui bahwa Allah adalah Esa dalam 1 Korintus 8:4 “Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”

2. Allah yang adalah esensi, dan dalam kemahakuasaan-Nya, mewujud dalam tiga pribadi yang tidak bisa dipisahkan dan selalu berada bersama: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ini sudah ada sejak mulanya, bahkan sejak penciptaan (Kejadian 1:1-2; Yohanes 1:1; Kolose 1:15-15; dsb.). Yang dimaksud pribadi bukanlah seperti yang kita pahami sekarang. Dalam bahasa latin “persona” bermakna plural dan selalu mengandung sebuah relasi di dalamnya. Pribadi dan relasi sesungguhnya menunjuk pada hal yang sama dari sudut yang berbeda. Pribadi selalu relasional; relasi selalu personal. Saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri tanpa kehadiran yang lain, sehingga saya (persona) selalu menjadi bagian komunitas. Dalam masyarakat Indonesia hal ini kita pahami karena kita hidup dalam komunitas. Kesalahan saya akan merusak nama baik komunitas dan kesalahan komunitas akan membuat saya merasa ikut bersalah. Sementara keberhasilan anggota komunitas juga adalah kebanggaan saya meski saya tidak ikut di dalamnya. Persona saya selalu terikat dalam komunitas. tanpa komunitas saya tidak akan ada. Dalam pemahaman ini kita bisa memahami bahwa Allah adalah esensi dari tiga persona Bapa, Anak dan Roh Kudus.

3. Mengapa Allah mengutus pribadi Anak ke dalam dunia? Karena dosa manusia yang terlalu besar, Allah menganggap bahwa manusia tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari dosa. Karena pelanggaran manusia, Allah harus membebaskan manusia dari dosa. Tapi hal ini harus dilakukan-Nya tanpa mengubah hukum yang sudah ditetapkan-Nya, bahwa upah dosa adalah maut (Roma 5:12; Roma 6:23; dsb.). Bagaimana Allah bisa membebaskan manusia dari dosa sementara tidak mengubah hukum-Nya sendiri? Jika manusia mampu menyelamatkan dirinya sendiri, dia tidak membutuhkan Allah. Allah memutuskan untuk menanggung dosa manusia melalui pengutusan pribadi Allah, yaitu Sang Anak atau Kristus. Kelepasan manusia dari dosa berasal dari karunia Allah yang diwujudkan dalam pengutusan pribadi Allah, yaitu Sang Anak Yesus Kristus ke dalam dunia (Yohanes 3:16; Roma 5:17-19), bukan dari usaha manusia itu sendiri (Efesus 2:8; Roma 5:2).

4. Anak di sini bukanlah relasi biologis. Anak adalah terminologi untuk menyatakan kedekatan dan hubungan yang tidak bisa dilepaskan dalam esensi Allah. Tetapi Sang Anak harus lahir ke dunia, karena Dia harus mengambil bentuk manusia dan “berada” dalam cara manusia, yaitu dilahirkan. Dengan menjadi manusia dan mati sebagai manusia, Allah bisa melepaskan manusia dari dosa.

5. Bayangkan seorang raja yang mengetahui bahwa ada pencurian dalam istananya. Dia kemudian mengumumkan bahwa sang pencuri harus dihukum cambuk 100 kali di balairung istana. Dia kemudian menemukan bahwa sang pencuri adalah ibu mertuanya sendiri. Sang istri memohon untuk menangguhkan hukuman karena sang ibu mertua sudah lanjut usia dan menyatakan penyesalannya. Sang raja tidak bisa menarik hukuman karena dia akan terlihat pilih kasih bagi lawan-lawannya. Sementara itu, jika hukuman tetap terlaksana, dia akan terlihat kejam terutama bagi istrinya. Dia tahu bahwa ibu mertuanya tidak akan mampu menerima hukum cambuk dan jika tetap dilaksanakan bisa berujung pada maut. Pada hari pelaksanaan hukuman, sang raja memutuskan untuk menjalani sendiri hukuman tersebut karena hukum harus tetap berjalan, tapi dia yang menerimanya sebagai ganti ibu mertuanya. Sang raja harus menjalani hukuman, meski dia tidak bersalah, sebagai ganti pelaku kejahatan yang pasti tidak mampu menerima hukuman. Karena kasihnya, sang raja membiarkan dirinya dihukum oleh hukum yang diciptakannya sendiri. Itulah analogi mengapa Allah membiarkan diri-Nya dalam pribadi Sang Anak menerima hukuman untuk menyelamatkan manusia.

6. Yesus Kristus juga mengetahui keberadaan diri-Nya sebagai Sang Anak. Dia mengatakan beberapa kali bahwa Dia dan Bapa adalah satu (Yohanes 5:19; Yohanes 14:11). Yesus juga menyadari bahwa Roh Kudus dan Bapa serta diri-Nya adalah kesatuan (Yohanes 15:26; Matius 28:19; 1 Yohanes 2:1).

7. Kehadiran ketiga pribadi Allah tertulis dalam kisah Yohanes membaptis Yesus dalam Lukas 3:21-22, “21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Dari kisah ini, orang Kristen mengambil kesimpulan bahwa Allah itu Esa, namun dia bisa berada atau hadir dalam tiga pribadi yang ada pada saat bersamaan. Jika Allah Mahakuasa, Dia bisa hadir dengan berbagai cara, karena itu tiga pribadi dalam satu esensi Allah tidak mengganggu pemahaman keesaan (kemutlakan dan ketunggalan) Allah.

8. Kata “trinitas” muncul akibat pencarian istilah tentang apa yang tertulis dalam Alkitab. Dia berasal dari kata latin trinitas, dari kata sifat “trinus” (tiga yang terpisah, lapis tiga, sekali tiga) dan “unitas” (satu). Kata ini pertama kali diperkenalkan oleh Teofilus dari Antiokia pada tahun 170. Tertulianus kemudian mengambil istilah ini pada abad ke-3 dan menggunakannya dengan pengertian tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang memiliki satu esensi. Mengapa kata ini muncul? Karena apa yang dikatakan dalam Alkitab mengenai cara Allah “mengada” atau “berada” dalam tiga pribadi, yang tetap dalam keesaan esensi Allah tadi. Martin Luther menggunakan analogi trinitas sebagai: “Speaker, Spoken Word, and Listener.” Analogi lain untuk penggunaan satu kata yang mencakup keberadaan yang lain tanpa bisa dipisahkan adalah kata “pemerintah” sudah mencakup keberadaan “eksekutif, legislatif, dan yudikatif.” Pada esensinya ketiga cabang tersebut adalah satu sebagai pemerintah.

9. Karena pemahaman di atas, doktrin Trinitas tidak pernah bertentangan dengan doktrin keesaan Allah bagi orang Kristen karena Allah adalah Esa. Mengutip penjelasan Martin Luther, esensi Trinitas tidak bisa dipisahkan meski mereka berada dalam tiga pribadi, “Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tiga pribadi yang berbeda yang ada dalam satu esensi sifat, adalah Allah yang esa yang menciptakan langit dan bumi” (Martin Luther, The Small Clad Papers, 1537 (St. Louis: Concordia Publishing House, 1921), 453-529).

10. Namun, saya kembali mengakui bahwa penjelasan apa pun tidak akan bisa memformulasikan kepenuhan pemahaman kita kecuali melalui bantuan Roh Kudus. Dia berpendapat bahwa doktrin trinitas tidak dapat sepenuhnya dijelaskan dengan akal, selalu tidak akan komplit tanpa bantuan dari Roh Kudus.

Penjelasan di atas sudah menunjukkan bahwa doktrin Trinitas tidak bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Meski tidak bisa mewakili keseluruhan umat, saya yakin bahwa orang Kristen di Indonesia justru selalu memahami bahwa Allah itu adalah Esa. Polemik mengenai keesaan seharusnya tidak lagi muncul karena para pendiri bangsa Indonesia sudah dengan bijaksana memahami keberagaman bangsa dan harapan bahwa kita tidak lagi ingin mengubah Pancasila sebagai dasar negara.

Saya menghimbau kepada saudara-saudara di Indonesia, untuk meminta penjelasan mengenai doktrin agama tertentu kepada orang yang memahaminya. Mari kita merawat keberagaman dan kerukunan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang bhineka, yang memegang sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar kehidupan bersama. Dengan pemahaman yang baik, kita bisa kembali fokus kepada tugas bangsa kita yaitu perlindungan segenap bangsa, kemajuan kesejahteraan umum, kecerdasan bangsa, pelaksana¬an ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Majulah Indonesia!

Salam sejahtera!
Binsar Jonathan Pakpahan
Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (STT Jakarta)

Viewed 3250 times by 716 viewers

It will be great to have your reply here