Terima Kasih Reinhold – Kisah Pantang Menyerah

20150723_214602Hari pertama tiba di Belanda, 5 Agustus 2015, kami diajak untuk ikut acara barbeque di rumah Jaap dan kak Reita. Mereka punya bangku ayun di halaman belakang. Reinhold segera menunjukkan antusiasmenya untuk ikut naik bersama dengan Salvea dan Credo yang usianya lebih tua. Kami mewanti-wanti Reinhold untuk berhati-hati dan berpegang pada bangku ayun tersebut. Lima menit kemudian, mama Rein masuk ke rumah menggendong Rein yang menangis dengan mulut berdarah.

“Paaak…. sakit….” kata Rein.

Rupanya dia terjatuh dari bangku, persis seperti yang kami khawatirkan. Reinhold segera diperiksa dan dibersihkan lukanya oleh kak Reita dan kak Marianna yang adalah perawat. Mereka bilang untuk mengompres mulutnya yang berdarah karena tergigit ketika jatuh. Reinhold terus menangis kesakitan ketika kami kompres dengan air dingin.

10-15 menit kemudian, dengan bibir yang agak bengkak, Reinhold sudah kembali ke halaman belakang untuk naik kembali ke bangku ayun tersebut.

Bukankah kita bisa belajar dari Reinhold?

Ketika terjatuh, Rein tidak pernah menyerah. Dia terus mencoba dan mencoba, dengan pengetahuan bahwa orangtuanya pasti tidak akan jauh darinya dan menjaganya. Dia tidak takut gagal apalagi kapok karena terluka mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah kita takut mencoba atau mengulangi usaha kita melakukan sesuatu hanya karena kita pernah gagal atau dikecewakan? Marilah belajar dari Rein dan terus bangun ketika kita jatuh. Menangis itu lumrah. Menyerah itu payah.

Terima kasih Rein.

Viewed 262618 times by 11115 viewers

2 Comments

  1. Natalia Marpaung

    “Manangis itu lumrah. Menyerah itu payah”.
    Like it so much, bang!

  2. Bangun terus jika terjatuh :)

It will be great to have your reply here