Allah Tempat Perlindungan

Rock on Water ReflectionMinggu XX Dung Trinitatis (Minggu Reformasi), 2 November 2014

Epistel: 1 Tesalonika 2:9-13

Allah Tempat Perlindungan

 

1. Konteks

Surat 1 Tesalonika adalah surat tertua yang pernah ditulis oleh Paulus bersama dengan surat Galatia (+ 50-53 M). Surat ini berasal dari Paulus, Silas, dan Timotius (1Tes. 1:1), yang disampaikan kepada jemaat di kota Tesalonika. Tesalonika adalah pusat lalu lintas perdagangan dari Timur ke Barat. Kota ini juga banyak dihuni oleh bangsa-bangsa yang memiliki peradaban tinggi, seperti Romawi, Yunani dan Yahudi. jadi, Tesalonika adalah kota yang sangat majemuk. Paulus menulis surat ini dalam perjalanan penginjilannya yang ke-dua. Mereka sedang berada di Korintus ketika mereka menulis surat ini (Kis. 17).

Setelah dari Tesalonika, Paulus pergi ke Beroea dan Athena, lalu ke Korintus. Di sana Silas dan Timotius bergabung dengannya, lalu Paulus mengutus Timotius kembali ke Tesalonika untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana (1Tes. 3:56). Paulus menulis surat ini setelah mendengar kabar mengenai apa yang terjadi di Tesalonika dari Timotius. Timotius mengatakan bahwa Jemaat Tesalonika adalah jemaat yang kuat, namun mereka sedang ditindas. Ada juga orang yang mengatakan hal-hal jelek mengenai Paulus dan menuduhnya menyebarkan ajaran palsu. Karena itu banyak orang Kristen yang kemudian memiliki pertanyaan-pertanyaan lain.

Tujuan dari penulisan surat ini adalah bahwa Paulus ingin mengucap syukur kepada Allah atas berita tentang kuatnya jemaat Tesalonika. Lalu Paulus juga ingin menguatkan mereka untuk tetap hidup dalam jalan Tuhan. Paulus juga menjawab tuduhan bahwa dia sedang mencari keuntungan dari pemberitaan firman-Nya. Lalu ada juga pertanyaan mengenai jemaat yang sudah mati sebelum Kristus datang kembali (1Tes. 4:13-18). Paulus juga mengajarkan jemaat untuk tetap teguh dalam kesucian (1Tes. 4:3-7) karena di kota itu, kejahatan seperti ini adalah normal.

Apabila kita memperhatikan Surat 1 Tesalonika ini, maka kita akan melihat betapa besarnya perhatian Paulus terhadap kedatangan Kristus yang kedua kali. Misalnya “dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang” (1Tes. 1:10). Contoh lain juga bisa dilihat dalam 1 Tesalonika 2:19; 3:13 dan 5:2. Paulus mau mengatakan bahwa pada akhirnya Kristus akan datang dan membawa semua orang percaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Teks yang menjadi pusat perhatian kita pada saat ini adalah bagian yang mengingat bagaimana Paulus pernah melayani di Tesalonika. Paulus bercerita kembali mengenai alasan mengapa mereka datang ke Tesalonika, dan bagaimana mereka dulu tinggal dan berkarya di situ (1Tes. 2:9-13). Pada bagian selanjutnya mereka juga mengingatkan kembali respons jemaat Tesalonika dan mengucap syukur karenanya (1Tes. 2:13-16), dan mengungkapkan rencana untuk mengunjungi mereka lagi namun belum dapat melakukannya (1Tes. 2:17-18).

2. Penjelasan Teks

2:9. Bagian ini digunakan Paulus untuk menolak tuduhan bahwa dia hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dalam pemberitaan Injil. Paulus menolak tuduhan ini dan mengatakan bahwa selagi mengabarkan Injil, dia juga tidak mau menjadi beban bagi siapapun juga karena tujuan utamanya bukanlah untuk mencari keuntungan. Paulus pernah bekerja sebagai pembuat tenda ketika sedang melayani di Korintus (Kis. 18:3; lihat juga 2Kor. 11:9), dan juga menerima bantuan dari Jemaat Filipi (Fil. 4:16). Paulus tidak ingin menjadi beban bagi siapapun juga.

2:10. Paulus menekankan dan mengingatkan bahwa tuduhan yang disampaikan atas mereka adalah tidak benar. Jemaat Tesalonika sendiri tahu bagaimana Paulus hidup di tengah-tengah mereka. Kehidupan yang ditunjukkan Paulus adalah benar dan tidak menjadi batu sandungan bagi mereka yang melihatnya. Karena jejak yang baik, Paulus pun ingin mengingatkan agar jemaat tidak ragu akan isu yang menimpa mereka.

2:11. Perilaku tanpa kesalahan yang ditunjukkan Paulus sama seperti seorang bapa yang sedang menasihati anak-anaknya. Meskipun mereka sudah dituduh, namun sama seperti seorang bapa, mereka dengan lembut mengingatkan jemaat Tesalonika untuk tetap kuat dan saling menguatkan. Surat yang dibacakan dalam jemaat ini juga akan mendorong setiap orang untuk saling menolong dalam melawan ajaran-ajaran yang salah. Jika di ayat 7 Paulus membandingkan cara mereka mengasuh dan merawat jemaat sama seperti seorang ibu terhadap anaknya, maka di ayat ini Paulus menasihati dan menguatkan mereka seperti seorang bapa.

2:12. Permintaan Paulus adalah supaya jemaat Tesalonika bertahan dalam ujian dan tekanan yang mereka hadapi, juga terhadap pengajar palsu, agar mereka tetap hidup dalam kehendak Allah.

2:13. Karena itu, mereka mau menekankan kembali bahwa perkataan yang Paulus sampaikan kepada mereka bukanlah perkataan manusia, namun sebagai firman Allah. Dengan penegasan ini, Paulus menolak segala tuduhan yang diucapkan atas mereka. Dengan penjelasan ini, Paulus juga ingin memberikan dasar pengajaran yang benar seperti yang akan dia ungkapkan dalam ayat-ayat berikutnya.

3. Poin-poin untuk Direnungkan

  1. Pelayan yang bekerja keras. Paulus adalah satu dari contoh para pelayan yang berusaha memberikan yang terbaik bagi jemaat yang dilayaninya. Dia berhasil melayani dan mengabarkan kabar baik sesuai dengan Firman Allah karena dia bebas dari pengaruh orang lain. Paulus adalah contoh pelayan yang mandiri dalam pelayanannya dan tidak menjadi beban. Beban di sini bukan berarti bahwa setiap pelayan yang dibiayai jemaat menjadi beban bagi mereka. Paulus juga dibiayai oleh Jemaat Filipi dan mengatakan bahwa pelayan yang melayani hendaklah hidup dari pemberitaan mereka (1Kor. 9:14). Seorang pelayan harus menunjukkan kerja keras dalam pelayanannya. Jika seorang pelayan melayani dengan baik, maka siang dan malam sebenarnya terasa tidak cukup baginya. Seorang pelayan dan pekerjaan pelayanan harus bisa membagi waktu dengan baik. Pertanyaannya, apakah pelayanan yang diberikan selama ini sudah maksimal? Tantangan yang dimiliki tiap konteks tentu berbeda. Bagi jemaat perkotaan misalnya, tantangan terbesar adalah bagaimana mengatur waktu dengan maksimal agar tidak terjebak dalam kemacetan dan jarak. Bagi jemaat pedesaan, tantangan terbesar adalah bagaimana pelayan tidak terjebak dalam rutinitas pelayanan dan berhasil melahirkan pelayanan-pelayanan yang mengembangkan iman jemaat.
  2. Pelayan yang menjadi contoh, seperti ibu dan bapa. Pada saat ini ada kebutuhan dan kerinduan yang luar biasa dalam gereja HKBP untuk memiliki pelayan-pelayan yang berkualitas dan menjadi teladan. Pelayan yang berkualitas diperlukan bukan hanya dalam jabatan pendeta, namun juga dalam jabatan sintua, para aktivis gereja, dan mereka yang memiliki panggilan untuk melayani dalam berbagai kapasitas. Jika para pelayan ini mandiri dan menunjukkan kerja kerasnya, secara otomatis mereka akan menjadi contoh bagi jemaat yang dilayaninya. Seseorang yang menjadi contoh akan memiliki otoritas untuk menasihati, dan ini bukan karena faktor usia melainkan hidupnya dalam Allah. Ketika seseorang bekerja keras, dia akan memiliki otoritas untuk menasihati yang lain. Untuk menjadi efektif, kehidupan orang yang memberi nasihat harus berjalan lurus dengan nasihat yang diberikannya. Hal ini tidak mengatakan bahwa orang yang tidak baik hidupnya tidak bisa memberikan nasihat yang baik, atau menjadi pelayan. Paulus menunjukkan bahwa efektivitas pelayanan menjadi baik ketika sang pelayan juga menjadi contoh hidup pengajarannya. Poin lain yang ditunjukkan adalah, jika seorang pelayan tidak menjadi contoh, maka jemaat akan cepat terpecah ketika ada ajaran palsu yang merusak pelayanan tersebut. Jika ajaran yang diberikan kuat dan mengakar, maka perpecahan tidak akan terjadi. Perpecahan menunjukkan ketidakdewasaan jemaat dan kurangnya otoritas pelayan dalam menjadi contoh yang baik bagi mereka yang dilayaninya.
  3. Bertahan dalam ujian dan tekanan. Semua ucapan yang diberikan oleh Paulus adalah untuk menguatkan dan mendorong Jemaat Tesalonika untuk hidup dalam Allah. Banyaknya tekanan terhadap mereka membuat Paulus mengutus Timotius dan menulis surat ini. Paulus meningkatkan kualitas pengajaran tentang Firman Allah untuk menguatkatkan jemaat dalam ujian mereka. Kualitas ini diperlukan untuk meneguhkan jemaat dalam ajaran yang benar. Dalam usianya yang lebih dari 150 tahun, HKBP perlu memberi perhatian kepada bentuk dan isi pengajaran yang diberikan kepada Jemaat. Gereja yang baik memberi makanan rohani yang sesuai dengan pertumbuhan iman jemaatnya. Pendidikan teologi kepada jemaat sudah mulai perlu diperhatikan, terutama dalam bentuk dan metode yang sesuai dengan konteks jemaat yang dihadapinya. Persoalan zaman yang semakin berkembang: seksualitas, pendidikan mengenai kesadaran akan HIV, lingkungan hidup, globalisasi, perdagangan bebas, internet, harus banyak didiskusikan dalam pengajaran-pengajaran gereja. Gereja harus bisa memberi dasar pengajaran yang baik sehingga jemaat bertahan dalam ujian dan tekanan. Pertanyaannya, apakah kita sudah serius dalam mempersiapkan katekisasi, sekolah minggu, persekutuan remaja, pemuda, ibu, bapa, dalam bentuk pengajaran yang baik? Apakah gereja kita sudah memberikan ruang untuk diskusi dan bertanya mengenai hal-hal tersebut? Jika kualitas pengajaran ditingkatkan, maka jemaat akan dapat bertahan dalam ujian dan tekanan.

Pdt. Binsar J. Pakpahan, Dosen STT Jakarta

 

Viewed 10899 times by 3556 viewers

One Comment

  1. Thank you for this learning and sermon

It will be great to have your reply here