MENJADIKAN KRISTUS SEBAGAI PRIORITAS

choose DSC04352Bahan Sermon Parhalado HKBP Menteng
Epistel Minggu XVI Sesudah Trinitatis 2014

MENJADIKAN KRISTUS SEBAGAI PRIORITAS
FILIPI 3:4B-14

A. KONTEKS
Kota Filipi adalah sebuah kota Romawi dan pangkalan militer yang terkenal. Dia terletak di Makedonia timur + 16 km dari pesisir Laut Aegea. Jemaat Filipi didirikan oleh Paulus dan teman-teman sekerjanya (Silas, Timotius, Lukas) pada perjalanan misi yang kedua sebagai tanggapan terhadap penglihatan yang Allah berikan di Troas (Kis 16:9-40). Jemaat ini memiliki hubungan khusus dengan Paulus, karena mereka mengirimkan beberapa bantuan kepada Paulus melalui persembahan (2Kor. 11:9; Fil. 4:15-16). Gereja di Filipi sendiri bukanlah gereja besar yang kaya (Lih. 2Kor. 8). Mereka menolong karena kedekatan dan keinginan mereka membantu perjalanan Paulus dalam mengabarkan Injil.

Surat Filipi terjadi pada pejalanan misi kedua Paulus. Paulus menulis surat ini ketika dia ada dalam penjara Roma (antara 61-63 M). Surat ini ditulis dalam nada akrab antara Paulus dan Jemaat. Orang-orang Filipi telah mengirimkan Epafroditus untuk melayani Paulus (Fil. 2:25). Epafroditus kemudian sakit parah dan kemudian sembuh. Setelah sembuh, Paulus kembali mengutusnya untuk memberi kabar kepada Jemaat di Filipi mengenai hukuman yang diterimanya di Roma dan optimismenya menghadapi kematian (Fil. 1:18b-26), dan bahkan Paulus menyambut hukumannya dengan ucapan “bersukacitalah!” (Fil. 4:4).
Melalui surat ini Paulus ingin memberi pesan spiritual kepada jemaat Filipi mengenai penyesatan yang terjadi dan konflik yang terjadi di antara mereka (Fil. 4:2-3). Berdasarkan telaah teks, kita bisa menemukan beberapa pesan yang diberikan Paulus kepada jemaat di Filipi. Mereka mulai diganggu dengan pengabar palsu dan orang-orang yang memiliki motif salah. Lalu ada juga perselisihan antara Euodia dan Sintikhe, di mana ada yang menganggap dirinya lebih penting dari yang lain (Fil. 2:2-4). Mereka juga menghadapi pengaruh dari para penganut agama Yahudi dan orang-orang Kristen dari latar belakang Yahudi yang menganggap dirinya lebih baik dari umat Kristen yang lain (Fil. 3).

Tema utama dalam surat Paulus kepada Jemaat Filipi adalah:
1. Sukacita. Paulus menulis tentang “bersukacita senantiasa” juga dalam pembukaan pasal 3 ini. Yang perlu kita ketahui adalah bahwa Paulus seharusnya berada dalam kondisi berduka karena situasinya. Namun, karena Kristus adalah tujuan akhir hidup, maka segala sesuatu di dunia ini adalah jalan kita menuju kepadaNya. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak bersukacita di tengah-tengah segala keadaan hidup.
2. Saling melayani. Paulus menekankan sikap kerendahan hati dan pelayanan di antara sesama saudara. Tidak ada orang yang boleh menganggap dirinya lebih penting dari yang lain karena kita semua adalah sama di hadapan Allah.
3. Pengenalan akan Kristus. Ini adalah nilai yang jauh lebih penting dari apapun juga. Paulus menekankan pengenalan akan Kristus sebagai perspektif melihat masa kini dan masa depan.

B. PENJELASAN TEKS
Ayat 4: Penjelasan ayat 4 harus dilihat dari apa yang dikatakannya di ayat 2, bahwa ada orang yang menganggap dirinya lebih baik dari yang lain karena status yang mereka miliki sejak lahir: sebagai orang Yahudi. Karena itu Paulus juga mengatakan bahwa dia juga memiliki hak yang sama, namun tidak menyombongkan diri karenanya.

Ayat 5-6: Paulus menuliskan tentang haknya sebagai orang Yahudi, dan bagaimana dia menyebut dirinya sendiri sebagai “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Semua yang disebutkannya ini adalah kehidupannya sebelum Paulus mengenal Kristus. Sesudah mengenal Kristus, Paulus mempersiapkan dirinya untuk berubah setelah bertemu Kristus dalam perjalanan di Damaskus (Kis. 9:16).

Ayat 7-8: Semua priviledges yang dimilikinya dalam identitas di atas dianggapnya sebagai sebuah kerugian karena Kristus. Tidak berhenti di situ, dia bahkan menambahkan mengapa dia menganggap itu semua sebagai sampah. Semua yang ada di dunia, hal-hal yang dimilikinya sejak lahir, adalah kerugian, kecuali Kristus.

Ayat 9: Lalu di ayat 9, Paulus menjelaskan mengapa Kristus jauh lebih berharga dari segala hal yang dimilikinya tadi. Dia tidak ingin dibenarkan karena Taurat, melainkan karena “kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” Semua usaha dalam melakukan Taurat tidak berguna karena yang benar adalah anugerah karena iman.

Ayat 10-11: Dalam ayat 10, Paulus bercerita bahwa satu yang diinginkannya adalah mengenal Kristus dalam penderitaan-Nya. Melalui penderitaan, Paulus bisa menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, yang dimenangkan dalam kebangkitan dari antara orang mati. Paulus tahu bahwa kebangkitan berarti dia akan ada dalam persekutuan kekal dengan Kristus. Dia ingin mengikuti jejak Kristus yang menderita, karena dia melihat ada kebangkitan dan kemenangan sesudah penderitaan itu.

Ayat 12: Kita harus ingat bahwa Paulus juga tidak pernah menganggap kesempurnaan datang dari pengetahuan di atas. Kita sendiri tidak akan bisa mengusahakan kesempurnaan, atau melakukan berbagai hal agar Kristus memilih kita, karena Kristuslah yang memilih Paulus.

Ayat 13-14: Dan dalam bagian ini Paulus mengatakan bahwa hadah utama adalah “yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Allah telah memanggil Paulus dalam Kristus dan dia memenuhi panggilan ini dengan pengharapan bahwa dia akan menikmati hidup baru bersama Kristus (Fil.3:20-21). Dengan mata yang diarahkan pada hadiah akhir ini, Paulus mengesampingkan segala yang berasal dari dunia untuk bersama dengan Kristus.

C. POIN UNTUK DIRENUNGKAN
1. Apa hal yang terpenting bagi kita dalam hidup ini? Beberapa orang mencantumkan hal-hal ini: Keluarga, teman-teman, suami/istri, kebahagiaan, kesehatan, sekolah, uang, karir, kebahagiaan, jabatan, kehormatan, dan lain sebagainya. Semua hal di atas adalah hal yang sekunder yang justru bisa menghambat kita mendekat kepada Kristus. Bahkan, ketika seseorang merasa dia sedang mendekat kepada Allah, seperti orang Farisi dan orang Kristen Yahudi yang merasa dirinya lebih baik dari yang lain, dia sebenarnya sedang menjauh dari Allah. Apakah kita bisa menentukan prioritas yang sesungguhnya dalam hidup kita, dan apakah prioritas itu Tuhan? Pikiran kita memang sering dipenuhi oleh keinginan duniawi. Sebagian besar waktu hidup kita habiskan untuk mengurus hal yang berhubungan dengan dunia ini. Satu cara yang bisa membantu kita dalam melihat tujuan hidup kita adalah dengan melihat pada hal-hal apa saja kita menghabiskan waktu, uang, energi, dan yang lainnya. Komitmen kita akan Kristus meminta kita juga memilih menghabiskan hal-hal di atas untuk Kristus. Berapa banyak waktu yang kita berikan untuk prioritas-prioritas tersebut?

2. Jika kita melihat bahwa prioritas kita adalah Kristus, maka kita akan lebih tidak mudah menyerah, tersinggung, mengeluh, apabila apa yang kita harapkan tidak tercapai. Kita tahu bahwa jika Allah yang menguasai hidup kita, maka Dia yang akan menentukan apa yang akan kita hadapi sepanjang perjalanan hidup kita. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi kita, maka apapun yang kita terima pada saat ini dilihat sebagai sebuah pelajaran dan kasih Allah kepada kita. Paulus menemukan penderitaan dalam perjalanan hidupnya, dia ditangkap, dia sakit, namun dia tetap melihat bahwa melalui hal-hal itu, dia akan menjadi semakin dekat dengan Allah.

Binsar J. Pakpahan

Viewed 28026 times by 5983 viewers

It will be great to have your reply here