Mulia dalam Kesetiaan

AbrahamKhotbah Minggu Reminiscere 14 Februari 2013 | HKBP Pulomas dan HKBP Tanjung Priok

Kejadian 15:1-6

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Menurut penelitian yang dilakukan CIA Factbook tahun 2012, tingkat kesuburan tertinggi diraih oleh Nigeria dengan rata-rata tingkat kelahiran anak adalah 7.16 per perempuan. Sementara itu yang terendah dimiliki oleh Singapore dengan angka 0.78 per perempuan. Jerman memiliki angka 1.41 per perempuan, dan Indonesia ada di peringkat 103 dengan rata-rata 2.23 anak per perempuan.

Tingkat kelahiran anak per keluarga memang mengalami penurunan. Saya masih bisa membayangkan orangtua saya yang memiliki keluarga besar, ayah saya dari 6 bersaudara dan ibu dari 7 bersaudara. Sekarang, saya sering menjumpai keluarga hanya dengan 2 atau 3 anak. Dulu, keluarga yang hanya memiliki 2 atau 3 anak akan disebut sebagai keluarga yang kurang memiliki rejeki, karena prinsip banyak anak banyak rejeki. Pemikiran yang berkembang sekarang adalah bahwa yang penting bukanlah berapa banyak jumlah anak, tetapi bagaimana kualitas hidup dari sang anak. Meskipun saya sudah tahu sebelumnya, dan karena istri saya sedang mengandung sekarang, kami menemukan bahwa barang-barang bayi memang mahal. Entah kenapa sepatu bayi yang kecil saja harganya lebih mahal dari sepatu orang dewasa. Karena mahal, lalu waktu untuk mengurus anak, kualitas menjadi lebih penting daripada kuantitas.

Meskipun demikian, sekarang orang tetap ingin memiliki keturunan. Anakkonki do hamoraon di au. Keberhasilan apapun di dunia ini, menurut kebanyakan orang Batak, tidak sempurna kalau tidak memiliki keturunan. Tapi ada perubahan. Kalau dulu sepertinya orang bisa dengan mudah memiliki 5-10 anak, begitu saja langsung punya anak. Sekarang tidak lagi semudah itu.  Karena masalah hormon, kesehatan, tingkat stress, memiliki anak bukan lagi hal yang mudah. Kita sekarang memiliki banyak sekali teknologi untuk membantu pasangan yang tidak memiliki anak sendiri, mulai dari bayi tabung, lalu suntik hormon, dll. Bahkan, buat pasangan yang belum memiliki anak, sebenarnya masih ada jalan lain, yaitu adopsi anak. Adopsi juga bisa dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki anak sendiri. Tetapi kita akan cerita lagi mengenai hal ini nanti.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Hal ini juga menimpa Abram, yang namanya belum menjadi Abraham.

Pada kisah ini, Abram sudah menuju tempat yang ditunjukkan Allah kepadanya. Di pasal 13 dan 14, kita membaca bahwa Lot dan keluarganya sedang ditahan. Sesudah berpisah dari Abram, Lot memilih tempat yang lebih hijau untuk ternaknya yaitu di lembah di dekat Sodom (Kej. 13:12). Namun tanah yang didiaminya juga diinginkan oleh raja lain. Karena itu ada 4 raja  yang menyerang kerajaan Sodom dan Gomora, yaitu Amrafel, raja Sinear; Ariokh, raja Elasar; Kedorlaomer, raja Elam; dan Tideal, raja Goyim (Kej. 14:1).  Empat raja ini berperang melawan Bera, raja Sodom; Birsya, raja Gomora; Syinab, raja Adma; Syemeber, raja Zeboim, Bela atau disebut juga negeri Zoar. Empat raja berperang melawan empat raja lainnya. Raja Sodom dan Gomora kalah, sehingga Lot ditahan. Kabar ini terdengar kepada Abram, dia pergi dan mengumpulkan orang-orangnya, lalu berperang. Mereka menang dan berhasil membawa kembali harta benda yang diambil dari dua kerajaan itu. Tetapi Abram tidak mengambil harta itu. Dia mengambil sepersepuluh (Kej. 14:20) dari semuanya dan memberikan kepada Melkisedek, Imam Allah, untuk dipersembahkan kepada Allah. Sementara itu, harta lainnya dikembalikannya kepada Sodom dan Gomora. Dia berkata, “Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi: 14:23 Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya.”

Tetapi sesudah kemenangan ini, ternyata Abram tidak puas. Ada hal yang mengganjal hatinya. Allah dapat melihat hal ini, karena itu Allah menyapanya dalam sebuah penglihatan. Allah berkata, “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” Allah berkata supaya Abram tidak takut. Apa yang ditakutkan Abram? Apakah dia takut kalau keempat raja yang dikalahkannya akan membalas dan menyerangnya?

Tidak. Ketakutan Abram ternyata lebih mendalam dari itu. Abram belum memiliki keturunan. Apalah arti semua kekayaannya, dan kemenangannya, kalau dia tidak memiliki keturunan? Apalah arti semua harta di dunia kalau tidak ada yang akan mewarisinya. Mungkin prinsip hidup Abram hampir sama dengan orang Batak. “aha ma lapatan ni sudena molo so adong ianakhonhu na manjalosa?”

“Bintang na rimiris ma, tu ombun na sumorop Asa anak pe antong di hamu riris, boru pe antong torop.”

“Tubuan laklak ma, tubuan sikkoru di dolok ni Purbatua Sai tubuan anak, tubuan boru ma hamu, donganmu sarimatua.”

“Tangki jala hualang, garinggang jala garege, Tubuan anak ma hamu, partahi jala ulubalang Tubuan boru par-mas jala pareme.”

“Tubu ma hariara, di tonga-tonga ni huta, Sai tubu ma anak dohot borumu Na mora jala na martua.”

Buat orang Batak, keberhasilan sering dihitung dari keturunannya.

Abram juga melihat bahwa dia belum memiliki keturunan. Apalah arti semua berkat dan kemenangan kalau nanti semuanya akan diberikan kepada hambanya Eliezer (Kej. 15:2). Lalu, dia berkata, “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku” (Kej. 15:3).

Tentunya Abram mengingat janji Allah kepadanya sebelumnya. Allah sudah berjanji dua kali kepadanya untuk membuatnya sebagai bangsa yang besar.

Dalam Kejadian 12:2, Allah menyuruh  Abram pergi dari tanahnya di Ur Kasdim menuju tanah baru dan berjanji, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” Lalu di Kejadian 13:16, Allah berkata, “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.” Allah menjanjikan kesuksesan dan salah satu janji yang menurut Abram belum dipenuhi Allah adalah mengenai keturunan.

Allah memahami kegundahan hati Abram ini. Allah berkata “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” 15:5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Sebenarnya janji Allah kepada Abram sungguh luar biasa, dan karena janji ini, Allah akan tetap menyertainya dan keturunannya sampai sekarang. Keturunan Abram menjadi luar biasa banyaknya, bahkan dalam lagu sekolah minggu kita juga tahu bahwa kita semua juga adalah anak Abraham… “Bapa Abraham mempunyai banyak sekali anak-anak, aku anaknya dan kau juga, mari puji Tuhan.”

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Mungkin kekhawatiran Abram ini sedang terjadi juga pada saudara. Semua keberhasilan di dunia ini tidak ada artinya kalau tidak ada keturunan. Ini merupakan sebuah hal yang masih kita pegang di adat Batak. Seberapapun harta anda, karir anda, kesuksesan anda, selalu diukur dengan anak, lebih tepatnya anak laki-laki. Ini bisa kita lihat dari senangnya kita mencampuri urusan orang lain. Pertama kita akan bertanya, kapan menikahnya. “amang pendeta, unang gabe doli2 jerman hamu annon, hatop ma hamu mangoli.” Hape di Bolanda do iba singkola, ndang di jerman. Lalu sesudah menikah, baru 30 hari sesudah menikah, orang sudah ramai bertanya, “boha, nga adong?” “Sudah isi?” bahkan nanti kalau sudah punya anak satu pasti pertanyaan berikutnya, “kapan ada adiknya?”

Tetapi, apakah berkat Tuhan hanya bisa dilihat melalui pemberian keturunan? Dan apakah memang keturunan itu hanya anak laki-laki?

Sepertinya pepatah “banyak anak banyak rejeki” hanya ada di negara-negara belum maju. Di beberapa negara maju, hal memiliki keturunan sepertinya tidak terlalu menjadi prioritas lagi. Di Belanda misalnya, banyak orang menikah dan hanya memiliki satu anak atau tidak memiliki anak sama sekali. Di singapura, orang sudah menikmati kehidupannya sendiri, dengan pasangan, tapi tidak memiliki anak. Karena tingkat kelahiran yang rendah, beberapa pemerintahan seperti Singapura, Jepang, Belanda, Swiss, Jerman, memberikan subsidi untuk mereka yang memiliki anak. Ada semacam tambahan uang untuk mereka yang mau memiliki anak. Anak bukan lagi ukuran keberhasilan seseorang.

Bagaimana dengan kita sendiri? Seperti dalam film “Mencari Ucok,” apa yang penting bagi orang Batak adalah keberhasilan keturunan kita. “Kalau kau punya boru yang lebih hebat dari mamak, barulah kau boleh sombong sama mamak” kata si ‘Mak Gondut.

Saudara-saudara, hal ini bisa benar dan bisa tidak. Mari kita lihat dari Abram.

Kita tahu bahwa Abram ternyata memiliki satu anak dari Sara istrinya, dan satu lagi dari budaknya Hagar. Ishak, anak Abram pun, hanya memiliki dua anak, Esau dan Yakub. Dari Yakub lah, yang kemudian disebut Israel, 12 suku Israel muncul. Tetapi apa yang kita harus lihat, bahwa keturunan Abram – yang kemudian menjadi Abraham – bukan hanya dari Ishak. Kita semua menjadi anak Abraham di dalam iman. Kita menjadi anak Abraham karena kepercayaan kita kepada Allah, yang adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Ternyata warisan abadi seseorang bukan hanya di keturunan. Warisan abadi adalah perbuatan dan iman seseorang. Kita mengenal Abraham karena imannya, dan bukan karena keturunannya. Meskipun keturunan Abraham melimpah ruah, tapi kalau dia tidak memiliki iman, maka dia tidak akan dikenal.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Ini juga harus kita cermati dalam kehidupan kita. Keturunan yang sudah diberi kepada Abram bahkan mau diambil Allah kembali. Dia meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak, namun Allah tergerak hatinya lalu mencegahnya. Allah mau menguji apakah kesetiaan Abram kepadanya muncul hanya karena keturunan?

Ini terjadi, ada banyak orang menjadi tidak setia kepada Allah, atau bahkan menjadi seperti tidak memiliki Allah karena masalah keturunan. Bayangkan berapa banyak orang yang pergi ke dukun karena tidak memiliki keturunan. Atau, berapa banyak orang yang jadi bercerai, atau diceraikan oleh keluarganya, karena tidak memiliki keturunan, atau lebih parahnya lagi, keturunan laki-laki. Jadi, ndang ala ni anak gabe ndang porsea be hita tu Tuhan I, manang gabe songon halak na so porsea hita tu Tuhan i. keturunan Abraham adalah keturunan iman, kepercayaannya. Apa yang kita wariskan juga bukan karena keberhasilan anak, tetapi nilai sesungguhnya adalah iman kita yang berhasil kita jaga sampai ke keturunan kita. Anakhonki do hamoraon di ahu, aha do lapatanna? Molo ndang mora roha ni anakkonhi, ndang mora ahu. Intinya bukan anak, tapi iman.

Karena itu, nasihat saya, jangan langsung cepat menghakimi mereka yang belum memiliki keturunan, atau menilai seseorang hanya dari keturunannya. Lihat mereka dari imannya. Karena dari iman mereka bisa memiliki banyak keturunan. Ibu Teresa, tidak memiliki anak kandung. Tetapi karena imannya, dia memiliki banyak sekali anak-anak di dunia ini, yang hidup dan menjadi seseorang karena iman dan kebaikannya.

Sekali lagi, berkat Tuhan, dalam rupa keturunan kepada Abraham juga adalah berkat keturunan dalam iman, bukan hanya keturunan biologis. Marilah berlomba untuk memiliki dan mewariskan iman kita kepada orang di sekitar kita. Amin.

 

Kejadian 15:1-6

15:1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” 15:2 Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” 15:3 Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” 15:4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” 15:5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 15:6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Viewed 13810 times by 4491 viewers

It will be great to have your reply here