“Bersoraklah, Tuhan ada di tengah-tengah kita”

Khotbah Minggu Adven 3| HKBP Tebet | Zefanya 3:14-20

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Sukacita adalah sebuah pilihan yang ada dalam pikiran anda.  

Otak Manusia adalah hal yang mengagumkan. Dalam sebuah acara National Geographic yang saya tonton, mereka memperlihatkan bahwa otak kita bekerja dan memilih sensor, dan kemudian memutuskan apa yang sedang anda rasakan/lihat, dan memberikan opsi kepada anda untuk bereaksi. Misalnya dalam sebuah permainan mereka menunjukkan dua buah kotak dengan warna yang terlihat berbeda, padahal sama. Intinya, otak kita memproses sesuatu dengan berbagai macam pilihan, berdasarkan fakta yang ada, dan kemudian memberi arti dari indera kita, memutuskan reaksi apa yang sesuai dengan fakta itu, lalu kita melakukan aksi terhadap kejadian itu dengan emosi kita.

Hari ini kita akan melihat bahwa proses ini juga terjadi dalam emosi sukacita. Kita sebenarnya selalu dihadapkan pada pilihan untuk memberi reaksi dengan fakta yang ada.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita memasuki minggu Advent ke-tiga dari empat minggu penantian dan persiapan kita sebelum memperingati hari Kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia.

Advent ketiga adalah mengenai kegembiraan. Dalam tradisi gereja, lilin advent pertama dan kedua berwarna ungu untuk menyatakan harapan dan kasih Tuhan akan keselamatan kita. Advent ke-3 adalah spesial karena lilin hari ini berwarna merah muda/pink. Pada hari ini Paus akan memberikan setangkai mawar merah muda kepada warga yang berprestasi dalam gereja Katolik. Warna merah muda melambangkan peralihan dari harapan menjadi sukacita. Dalam bahasa Inggris kuno-nya, sukacita adalah GAY. Karena itu joy adalah gay, dan kata ini kemudian mengalami perubahan arti.

Dan hari ini kita akan bicara mengenai sukacita kita dalam penantian. Kita diingatkan akan janji kedatangan Kristus yang kedua kalinya untuk menyelamatkan dan memulihkan kita. Pada masa advent ini kita juga mempersiapkan diri untuk menyambut Kristus dalam dunia dan juga dalam hati kita.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Nabi Zefanya memulai panggilannya di abad ke-7 SM (thn 625 SM), kira-kira 50 tahun sesudah Yesaya dan 50 tahun sebelum Yeremia di masa pemerintahan Raja Yosia. Kita harus mengetahui sedikit sejarah Kerajaan Israel yang memang sudah penuh dengan cerita kejatuhan ke dalam dosa lalu pertobatan, lalu dosa, lalu pertobatan lagi, demikian berulang-ulang. Demikian juga cerita hari ini diwarnai oleh ciri khas bangsa Israel ini. Pada waktu Zefanya, Kerajaan Israel yang meraih masa jayanya di pemerintahan Daud dan Salomo, sudah pecah dua, yaitu Kerajaan Yehuda di Selatan yang merupakan pewaris langsung dari takhta Daud yang terdiri dari dua suku Yehuda dan Benyamin. Ibukota dari kerajaan ini adalah Yerusalem. Lalu satu kerajaan lagi tetap menggunakan nama Kerajaan Israel di Utara terdiri dari 10 suku, dan ibukotanya ada di Samaria. Orang Kerajaan Yehuda kemudian dipanggil orang Yahudi, yang kemudian sebagian suku Lewi juga ada di situ, dan orang kerajaan Israel kemudian dipanggil orang Samaria. Sementara ketika kedua kerajaan ini kemudian dikalahkan oleh bangsa Babel, mereka dikembalikan ke tanah yang sama dan kemudian kembali memiliki nama Israel.

Sebelum Raja Yosia memerintah, Kerajaan Yehuda dipimpin oleh dua generasi raja, yaitu Manasye (kakeknya) dan Amon (bapaknya) yang menyerah kepada kerajaan Asyur dan menyembah allah mereka. Mereka mengesampingkan Allah – Jahweh, yang disembah Israel, dan menggantinya dengan dewa Baal dan Asyera (2 Raj. 21:3). Manayse juga membunuh mereka yang percaya kepada Allah. Setelah dua periode raja yang berbuat jahat di mata Tuhan, yaitu Raja Manasye dan raja Amon, Allah mengutus nabi Zefanya untuk menyuarakan hukuman Tuhan yang akan dijatuhkan terhadap Yehuda.

Raja Yosia, adalah salah satu raja Yehuda yang kemudian mereformasi kerajaannya dan bertobat. Dia adaralah raja yang terkenal patuh kepada Allah. 2 Raj. 23:25 mengatakan, “Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia.” Salah satu panggilan pertobatan yang mengubahnya datang dari nabi Zefanya.

Kalau kita membaca kitab Zefanya di pasal satu dan dua, atau bahkan dari Zefanya 1:1-3:8, maka kita akan menemukan nubuat hukuman atas Yerusalem. Hukuman yang disuarakan Zefanya bahkan terdengar agak vulgar, Zefanya 1:15-17 berbunyi, “15 Hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam, 1:16 hari peniupan sangkakala dan pekik tempur terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara penjuru yang tinggi. 1:17 Aku akan menyusahkan manusia, sehingga mereka berjalan seperti orang buta, sebab mereka telah berdosa kepada TUHAN. Darah mereka akan tercurah seperti debu dan usus mereka seperti tahi.” Kita mengira bahwa seorang raja akan takut dan bertobat dari tindakan jahatnya. Sayangnya, peringatan yang diberikan juga tidak mengubah raja Manasye dan Amon. Zefanya berkata, “Aku sangka: Tentulah ia sekarang akan takut kepada-Ku, akan mempedulikan kecaman dan segala yang Kutugaskan kepadanya tidak akan lenyap dari penglihatannya. Tetapi sesungguhnya mereka makin giat menjadikan busuk perbuatan mereka (3:7).” Inilah pesan hukuman yang disampaikan oleh Zefanya.

Baru pada bagian akhirnya Zefanya memberikan janji keselamatan, dan bagian inilah yang kita baca sekarang. Karena itu, janji keselamatan tidak akan relevan buat mereka yang sudah selamat. Janji keselamatan ini datang kepada mereka yang akan menerima hukuman atas kesalahan mereka, yaitu Kerajaan Yehuda. Inilah janjinya, “Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya…; mengangkat malapetaka dari padamu…; menyelamatkan yang pincang …; mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi…; membawa kamu pulang…; mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka (3:17-20).” Inilah pesan sukacita dari Zefanya, dan pesan ini juga yang mau kita lihat dalam minggu Advent ke-3 ini.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Firman Tuhan hari ini?

Pertama. Sukacita datang dan hanya dirasa oleh mereka yang memang menanti dan menunggunya.

Banyak dari kita sekarang menginginkan segala sesuatu dengan cepat. Saya mau itu sekarang, saya mau ini sekarang. Saya mau sukacita sekarang? Mana sukacita? Orang mau cepat kaya à korupsi. Herannya orang memiliki standar ganda, kalau soal melakukan pekerjaan maka kita jadi memiliki prinsip lain, kalau bisa besok kenapa dikerjakan sekarang? Orang mengendara motor seperti berlomba mengejar hadiah, klakson mobil dan motor di jalan berbunyi, bahkan sebelum lampu hijau menyala. Kita tidak mau lagi menunggu. Akibatnya, ketika hal yang kita nanti datang, kita tidak begitu bahagia lagi karena kita tidak pernah menantikannya. Kita mau semua tersedia cepat dalam budaya instan ini.Sementara itu sukacita datang dari penantian.

Coba dengarkan Roma 2:6-8: “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, 2:7 yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, 2:8 tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.”

Atau Ratapan 3:25-26:, “25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya,bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diampertolongan TUHAN”

Karena orang mau sukacita instan, ini juga menyebabkan orang tidak mau menunggu, dan tidak mau menikmati proses menuju sukacita itu. Sukacita hanya dirasa oleh mereka yang menanti dan menunggunya.

 

Kedua, bahwa sukacita kita datang dari janji Allah dan kita tahu bahwa janji Allah adalah pasti.

Di dalam Alkitab ada 7000 janji Allah, dan sebagian besar sudah terpenuhi. Keyakinan kita dan teguhnya iman kita datang dari kepastian penantian akan pemenuhan janji Allah.

 

Ketiga sukacita adalah pilihan. Apabila kita sekarang dihadapkan pada nubuat Zefanya, bayangkan bahwa kita adalah umat yang tinggal di Yerusalem, bahwa akan ada hari di mana kita akan dihukum karena kesalahan kita, namun akan datang harinya di mana kita akan dibebaskan. Apa yang akan anda rasakan? Duka karena akan datangnya hukuman, atau sukacita karena pembebasan akan datang?

Kita sekarang dihadapkan pada dua pilihan, tentu kita bisa memproses pilihan itu sebagai sebuah dukacita, dan berduka karenanya, tetapi kita juga bisa memprosesnya, tentu dengan waktu – karena itu tidak bisa dengan cepat dan instan, kita perlu memproses fakta yang ada, lalu kita memutuskan untuk menjadi sedih atau bahagia karenanya. Kita bisa saja melihat fakta bahwa hukuman yang akan datang membutakan kita sehingga tidak melihat karya penyelamatan yang datang sesudahnya. Atau kita bisa memilih untuk berharap pada penyelamatan sehingga hukuman yang diterima pun tidak terasa lagi.

Fakta yang ada dibri Allah kepada kita, sekarang kita perlu memilih apa respons yang kita akan berikan kepadanya. Pernikahan pun bisa menjadi penderitaan kalau anda memutuskan untuk tidak bahagia di dalamnya. Kue enak pun bisa membuat anda sedih kalau anda memutuskan untuk selalu melihat kekurangan dari segala kelebihan yang ada.

 

Saudara-saudara terkasih,

Dua hari yang lalu ada penembakan yang menyebabkan 26 orang, sebagian besar anak kecil usia 5-10 tahun, meninggal dunia di Connecticut. Bagaimana kita bisa menghibur orang yang mengalami kesusahan seperti itu? Tentu kita tidak bisa berkata, bersukacitlah. Kita ada untuk menolong mereka yang susah dan berbeban berat untuk menyerahkan duka nya kepada Allah dan menunggu kedatangan sukacita dari Kristus.

Sukacita adalah sebuah pilihan, dan Allah memberikan pilihan itu kepada kita melalui janjiNya akan kedatangan AnakNya Yesus Kristus kembali kepada kita. Amin.

 

Viewed 15084 times by 4989 viewers

It will be great to have your reply here