Berterima Kasih Kepada Allah

image from sundayschoolsources.com

Khotbah Minggu  

Lukas 17:11-19   

“Berterima Kasih Kepada Allah”

 

Pembukaan: Video : Christian The Lion

 

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Video tadi adalah sebuah kisah nyata, di mana Christian, seekor singa yang diadopsi oleh John Rendall dan Anthony Bourke dari sebuah mal Harrods di Inggris tahun 1969. Christian kemudian menjadi terlalu besar untuk hidup di rumah mereka. Kedua orang ini kemudian mengembalikan Christian ke hutan di Afrika. Setahun setelah melepas Christian ke hutan, John dan Anthony mau menemui Christian untuk melihat apakah Christian masih mengingat mereka, dan ternyata dia masih mengenali John dan Anthony dan bermain dengan mereka.

Kisah nyata tentang Christian adalah pengantar untuk sebuah dongeng yang saya mau sampaikan berikut ini.

Ada sebuah dongeng yang ditulis oleh Aesop mengenai seorang budak bernama Androcles. Androcles adalah seorang budak yang melarikan diri dari tuannya. Tuannya berlaku jahat dan Androcles tidak tahan lagi. Dia pergi bersembunyi di hutan. Suatu ketika dia mendengar ada seekor singa yang mengaum di dekatnya. Ketika dia hendak lari, dia sadar bahwa singa itu tidak mengejarnya. Androcles berbalik dan melihat bahwa cakar sang singa berdarah dan bengkak. Dia bisa melihat ada kayu tajam yang menancap di cakarnya. Androcles lalu mendekati singa itu dan menarik kayunya. Singa itu kemudian menjilat Androcles seperti seekor anjing menjilat tuannya. Androcles dan singa ini hidup bersama, dan singa kadang-kadang membawa daging untuk Androcles. Suatu ketika singa dan Androcles ditangkap oleh kaisar. Kaisar ingin menghukum Androcles karena lari, dan juga sebagai sebuah kebiasaan waktu itu, menghadapkan orang terhukum di Colloseum dengan singa. Androcles juga adalah seorang Kristen, ini adalah alasan Kaisar menjatuhkan hukuman sedemikian, orang Kristen waktu itu juga diadu dengan singa sebagai sebuah tontonan. Ketika mereka berada di tengah arena, sang singa mengenali Androcles dan menjilat tangannya seperti seorang anjing menjilat tangan tuannya. Sang kaisar terkejut melihat hal ini kemudian melepaskan Androcles dan singa dari tahanan.

Di akhir kisah ini, Aesop menuliskan pesannya, “Gratitude is a sign of a noble soul.”

Sang singa mengingat bagaimana caranya berterima kasih kepada Androcles penolongnya. Christian sang singa, juga ingat siapa yang membesarkan dia dan tidak memakan mereka ketika dia akhirnya bertemu dengan John dan Anthony kembali.

 

Apa hubungannya cerita ini dengan kisah Tuhan Yesus dan 10 orang kusta?

Bacaan kita hari ini bercerita tentang 10 orang yang mengidap penyakit kusta. Mereka tentu sudah mendengar tentang kuasa Yesus menyembuhkan berbagai penyakit. Mereka ada di perbatasan Galilea dan Samaria karena mereka diwajibkan untuk menjauh dari mayarakat pada umumnya. Begitu mereka melihat Yesus, kemungkinan semangat mereka bangkit kembali karena berpikir bahwa mereka bisa sembuh kembali. Lepra atau kusta tergolong dalam penyakit yang tidak bisa disembuhkan dalam masa Yesus. Kusta adalah penyakit yang menakutkan dan juga sebuah hukuman atas dosa. Sewaktu saya mahasiswa, kami pernah praktek dan tinggal di rumah sakit kusta sitanala, di Tanggerang, Banten. Menurut informasi dokter, dan pasien, kusta menyerang sistem saraf, di mana anda tidak akan bisa merasakan apa-apa lagi. Dokter masih belum bisa menemukan penyebab kusta sampai saat ini. Kusta jadi berbahaya karena bagian tubuh kita membusuk dan kita tidak sadar lagi. Jari, hidung, atau telinga bisa lepas tanpa kita sadari. Penderita kusta tidak sadar kalau kaki mereka luka dan berdarah. Intinya, kusta adalah penyakit yang berbahaya, dan membuat penderitanya disingkirkan oleh masyarakat.

Penyakit inilah yang diderita oleh 10 orang ini. Karena mereka tidak boleh mendekat, mereka berteriak kepada Yesus dan meminta disembuhkan. Yesus menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam. Tentu ini adalah sebuah hal yang menarik bagi 10 orang ini. Yesus tidak menyentuh mereka, berdoa bagi mereka, tapi hanya mengatakan agar mereka kembali ke imam. Yesus menyuruh mereka kembali ke imam untuk mendapatkan sertifikat kesembuhan.

Di tengah jalan, mereka menjadi sembuh. Bayangkan kegembiraan yang melanda mereka atas sembuhnya mereka dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dari sepuluh orang, hanya satu orang, seorang Samaria, yang kembali untuk mengucap terima kasih kepada Yesus sambil memuliakan Allah. Orang Samaria adalah orang yang dianggap sebagai manusia yang dianggap lebih rendah kastanya daripada orang Yahudi. Tetapi justru orang inilah yang kembali kepada Yesus dan mengucap syukur.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Ada dua kata penting dalam hidup ini yang sulit untuk diucapkan, terima kasih, dan maaf. Renungan kita hari ini ingin mengingatkan kita tentang mengucap terima kasih. Cerita ini hampir sama dengan kehidupan kita sekarang ini.

Kesamaan yang pertama adalah, kita sering meminta tolong ketika kita berada dalam kesulitan. Sama seperti 10 penderita kusta, ketika tidak ada jalan lain kita kembali kepada Tuhan. Mungkin kita berada dalam masalah, dan sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah tersebut. Ketika kita tidak bisa lagi memecahkan masalah, maka kita memohon kepada Tuhan.

Lalu kesamaan yang kedua, ketika masalah orang kusta tersebut dipecahkan hanya satu yang kembali dan mengucap terima kasih. Ini tentunya statistik yang jelek sekali bahwa hanya satu dari 10 orang mengucap terima kasih untuk pertolongan yang diterimanya.

Adalah hal menarik bahwa Yesus mengatakan “Imanmu menyelamatkan engkau.” Sepertinya Tuhan Yesus juga ingin mengatakan bahwa orang Samaria itu kembali dan mengucap terima kasih karena dia memiliki iman. Hal ini menarik karena kata “thank”(terima kasih dalam bahasa Inggris) berasal dari kata Jerman kuno “thangle” yang berarti “berpikir”. “Thank” juga dekat dengan “think”. Artinya, ada sebuah proses berpikir yang diperlukan sebelum seseorang mengucapkan terima kasih. Kita mengucapkan terima kasih karena kita berpikir bahwa sesuatu yang diberikan itu berarti bagi kita.

Lalu kenapa 9 orang tidak mengucap syukur? Kemungkinan pertama adalah karena dia merasa dirinya layak memperoleh hal itu. Orang Samaria yang kembali merasa bahwa dia menjadi sembuh bukan karena upahnya melainkan karena karunia Tuhan. Statusnya sebagai orang Samaria membantunya lebih mudah sadar bahwa dia memang tidak layak ditolong namun tetap menerima pertolongan. Buat 9 orang Yahudi lainnya, mereka tentu merasa layak ditolong. Sebagai sesama orang Yahudi, Yesus memang harus menolong mereka. 9 orang Yahudi ini merasa layak ditolong.

Bagaimana dengan kehidupan kita sendiri? Apakah saudara masih mengingat mengucap terima kasih untuk hal yang saudara terima? Apakah saudara masih mengucap syukur untuk sarapan atau makanan enak yang saudara terima dari pasangan saudara? Atau apakah saudara tidak lagi mengucapkan terima kasih karena sudah seharusnya mereka melakukan hal itu sebagai isteri atau suami yang baik?

Saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman saya. Keuntungan menjadi seorang pendeta cukup banyak. Salah satu yang paling jelas adalah saya selalu mendapatkan jatah preman ketika ada acara-acara yang diadakan di Jemaat. Saya selalu menerima bungkusan makanan tanpa saya minta, sementara yang lain harus meminta dan membungkus sendiri. Bayangkan kalau saya menjadi terbiasa akan hal ini dan akhirnya justru menjadi pilih-pilih. Bayangkan kalau saya jadi menganggap bahwa saya memang layak menerima bungkusan makanan dan akhirnya jadi pilih-pilih, atau bahkan mengeluh ketika makanan yang saya terima tidak enak, atau sedikit. Bayangkan kalau saya tidak terima bungkusan makanan dan mulai mengeluh kepada yang punya acara. Artinya, ketika kita terbiasa atau menganggap diri kita layak atas apa yang kita terima, kita akan lupa untuk mengucap terima kasih.

Bagaimana saudara dalam kehidupan saudara sendiri? Apakah saudara masih mengucap terima kasih untuk pertolongan apapun, betapa kecilnya itu dalam kehidupan saudara?

Kadang-kadang kita lupa mengucap syukur atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak merasa bahwa apa yang kita terima adalah hidup adalah sebuah keberuntungan. Kadang-kadang di dalam gereja, kita juga menerapkan hal ini. Banyak orang menganggap bahwa gereja harusnya melakukan sesuatu untuk mereka, atau bahkan wajib melakukan sesuatu untuk mereka. Ketika gereja kurang sempurna pelayanannya, atau tidak melakukan sesuatu, kita mulai mengeluh. Kita sering lupa bahwa gereja itu adalah orangnya dan bukan gedungnya. Artinya ketika saudara meminta sesuatu dari gereja,  atau mengeluh, itu artinya kita mengeluhkan pelayanan kita sendiri.

Orang juga tidak mengucap terima kasih karena dia tidak menganggap apa yang diterimanya itu adalah hal yang penting baginya. Misalnya, apalah artinya sebuah kado kemeja untuk seorang yang punya lemari pakaian penuh dengan kemeja? Atau, ketika anda menerima kado ulang tahun dan ternyata kadonya tidak anda sukai, apakah anda masih mengucap terima kasih? Kadang yang kita terima adalah hal kecil, sehingga kita tidak menyadari pentingnya hal ini bagi kehidupan kita.

Apakah saudara juga masih ingat untuk mengucap syukur kepada Tuhan untuk hal kecil atau hal besar? Belakangan ini saya menjadi sadar akan pentingnya kesehatan. Banyak gangguan kesehatan yang saya lihat terjadi di sekitar saya, di jemaat kita sendiri. Kesehatan adalah karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Apakah saudara masih mengucap syukur untuk hal seperti ini?

Lalu yang terakhir adalah, bagaimana anda mengucap syukur kepada orang lain dan kepada Tuhan? Tuhan Yesus juga menginginkan orang yang lain mengucapkan terima kasih kepadaNya. Orang Samaria itu tersungkur di kaki Yesus dan mengucap syukur. Sang Singa dalam kisah Aesop menjilat tangan Aerocles sebagai ucapan terima kasihnya. Kalau saudara bersyukur kepada Tuhan, atas apa yang saudara terima dalam hidup, apa yang saudara berikan kepada Allah?

Kiranya kisah hari ini mengingatkan kita untuk tetap mengucap syukur atas berkat yang kita terima, besar atau kecil, dan memberi ucapan terima kasih yang layak kita berikan bagi Tuhan. Amin.

Viewed 23644 times by 9842 viewers

4 Comments

  1. Sore pak, saya tertarik dengan materi kotbah 1 nov 2011 “Berterimakasih kepada Allah”. Bisakah saya mendapatkan materi ini lewat email?? tks

  2. Sore pak, saya tertarik dengan materi kotbah tgl 1 nov 2011 “Berterima Kasih Kepada Allah”. Bisakah saya mendapatkan materi tsb? tks

  3. Saya sudah email ke ibu. Salam,

  4. sudah saya terima pak, terimakasih sekali untuk responnya. Tuhan memberkati

It will be great to have your reply here